RARA MENDUT oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Minggu, 27 Maret 2022 | 08:55 WIB
Pertemuan Rara Mendut (Hepi Salma) dan Pranacitra (Ali Marsudi) (www.indonesiakaya.com)
Pertemuan Rara Mendut (Hepi Salma) dan Pranacitra (Ali Marsudi) (www.indonesiakaya.com)

RARA MENDUT
Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku


I

Bung, masih ingat enggak cerita tentang Rara Mendut? Saya kok mendadak ingat Novel Trilogi Rara Mendut karya Romo Mangun. Romo YB Mangunwijaya. Kalau tidak salah ingat, Bung, trilogi itu dibagi menjadi tiga bagian: Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri.

Lewat novel ini, Romo Mangun—sekali lagi, kalau saya tidak salah—ingin menceritakan perbenturan budaya, tentu budaya Jawa yang di dalamnya terdapat intrik politik, dan pergolakan tradisi feodalisme.

Baca Juga: 25 Twibbon Menyambut Ramadhan 2022 untuk Jadi Profil di WA, IG dan FB. Lengkap dengan Cara Memasangnya

Kisah Rara Mendut perempuan cantik dari Pati ini terjadi pada zaman Sultan Agung Hanyokrokusumo (1593 – 1645) menjadi raja Kesultanan Mataram. Jadi, kalau tradisi feodalisme masih sangat kuat, demikian pula intrik politik kerajaan yang dibalut dengan feodalisme juga kuat, tidaklah aneh.

Itu dulu, Bung. Misalnya, soal posisi perempuan dalam sebuah keluarga. Dulu, perempuan itu dinomor-duakan atau bahkan “tidak dianggep sama sekali.” Buktinya, ada ujar-ujaran begini, perempuan itu “swarga nunut, neraka katut” (ke surga ikut, ke neraka pun terbawa) suami.

Semoga sekarang sudah tidak ada lagi. Ya, saya katakan “semoga” Bung, karena konon masih terjadi di daerah-daerah tertntu karena alasan budaya tertentu, dan juga agama tertentu.

Baca Juga: SNMPTN : Ini Lho, Kriteria yang Bakal Lolos SNMPTN Unpad, Salah Satunya Daerah Asal

Bung, dulu ujar-ujaran seperti itu kata para pinisepuh—orang-orang tua—diartikan sebagai cerminan kesetiaan seorang perempuan terhadap suaminya. Perempuan harus mengikuti kemauan suami, ke mana pun pergi tanpa reserve. Sekarang kan beda. Memang ada janji—Saya berjanji setia kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit, dan saya mau mencintai dan menghormati engkau seumur hidup—tetapi keduanya berjanji dalam kesetaraan.

Janji zaman dulu bisa dibaca sebagai bentuk inferioritas kaum perempuan terhadap lelaki, istri terhadap suami dalam kehidupan rumah tangga, Bung. Kalau “swarga nunut, neraka katut”, kan perempuan di sini digambarkan sebagai tidak memiliki kuasa apapun bahkan atas dirinya sendiri. Ini kan celaka di zaman sekarang ini. Meskipun masih ada yang menganut paham seperti itu. Bahkan, ada yang terus mengampanyekan.

Baca Juga: Selama Ramadhan ASN Kerja Mulai Pukul 08.00, Ini Aturan Lengkapnya

Nah Bung, dalam novel Rara Mendut, Romo Mangun membela kaum perempuan. Pendek kata begitu. Bagaimana si Rara Mendut, perempuan rampasan perang dari Pati hendak diperistri oleh Tumenggung Wiraguna. Tetapi, Rara Mendut menolak. Edan kan, pada zaman itu berani menolak. Rara Mendut menolak karena sudah mempunyai seorang kekasih yakni Pranacitra. Kesetiaan Rara Mendut tak runtuh hanya karena jabatan, pangkat, dan kekayaan lelaki yang ingin memperisterinya. Walaupun penolakannya itu harus dibayar mahal.


Rara Istiani Wulandari, Pawang hujan di MotoGP Mandalika
Rara Istiani Wulandari, Pawang hujan di MotoGP Mandalika (motogp.id)

II

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: Trias Kuncahyono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X