Penggalangan kekuatan pun juga sudah dilakukan oleh para aktor politik. Di mana-mana ada deklarasi-deklarasi mendukung tokoh atau aktor politik tertentu.
Tingkah polah para aktor atau yang merasa aktor politik, macam-macam. Banyak yang merasa sebagai tokoh, merasa memiliki kompetensi, dan merasa terpanggil untuk menjadi pemimpin.
Baca Juga: Bacalah Dzikir Subhanallah Wa Bihamdihi Subahanallahil Adzim, Maka Segala Kebaikan Mendatangimu
Dalam dunia yang rasional dan politik rasional sekarang ini, yang memilih para wakilnya dan pemimpinnya melalui pemilu, yang demokratis, one man one vote, yang tidak rasional pun masih tetap dipercaya dan diyakini. Misalnya, soal “Satrio Piningit”.
Kalau politik hanya diartikan semata-mata sebagai pertarungan kekuatan untuk memperebutkan dan mempertahankan kekuasaan, maka orang lantas menghalalkan segala cara demi kekuasaan.
Saat itu, politik merosot menjadi bisnis, karena terjadi transaksi. Maka tujuan luhur politik yakni menciptakan sebuah bonum commune, kemaslahatan bersama, kesejahteraan bersama tak tercapai.
Baca Juga: Menteri Basuki: Ibu Kota Negara Pindah akan Bentuk Peradaban Baru
Demikian pula, apa yang dikatakan oleh seorang ahli politik AS, Peter Merkl, bahwa politik adalah bentuk usaha yang paling baik untuk mencapai suatu tatanan sosial yang baik dan berkeadilan pun akan jauh dari kenyataan.
Dalam kondisi seperti itu—ketika politik menjadi bisnis, ketika politik menghalalkan segala cara, ketika politik hanya bicara soal kekuasaan—jangan harap ada politik welas asih, politik berhati nurani, politik bermoral, politik berkeadaban.
Maka jelas bagi kita, apa yang disebut real politics itu menyimpang dari yang luhur dan mulai. Tidak aneh kalau muncul orang yang berambisi besar dan berotak keledai, dalam politik.
Baca Juga: Piala Dunia Antarklub Digelar Minggu Depan. Simak Peserta dan Jadwal Lengkap Pertandingannya
III
Kami tidak ngobrol hal-hal itu. Ditemani teh hangat dan lumpia, kami ngobrol soal aktivitas Ganjar sebagai gubernur.
Ia bercerita tentang perjalanannya blusukan bertemu rakyatnya di seluruh pelosok Jawa Tengah. Ia mendengarkan keluhan dan masukan rakyatnya.
Dengan bersepeda, ia menemui banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat. Sebab, kata orang-orang bijak, pemimpin harus sering melakukan perjalanan incognito, hadir di tengah masyarakat untuk mendengarkan suara rakyat sejujur-jujurnya.
Artikel Terkait
Hasil Survei oleh CPCS Menunjukan Elektabilitas Ganjar Lebih Ungguli dari Prabowo
Partai Gerindra Jateng Deklarasikan Prabowo Subianto Menjadi Capres 2024
Tips Menjaga Kesehatan Jiwa ala Atikoh Ganjar Pranowo
Nekat… Bocah 13 Tahun Gowes 250 Km Cilacap-Semarang, Hanya untuk Ketemu Ganjar Pranowo
Sambil Gowes, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo Melakukan Sidak Sekolah yang Melakukan PTM 100 Persen
Saat Ganjar Pranowo Napak Tilas Sekolah Soekarno di Mojokerto
Prabowo Subianto Dihina, Kader Gerindra Ramai-ramai Polisikan Edy Mulyadi