Pameran instalasi Günther Uecker itu menegaskan yang dikatakan filsuf asal Inggris, Thomas Hobbes (1588-1679) bahwa “manusia serigala bagi sesamanya”, homo homini lupus est.
Baca Juga: Jonathan Rea Memenangi Race, Mangapa Toprak Razagatlioglu Juara WSBK?
Meskipun, ada serigala yang sering berbulu domba, yang tampak jinak, penurut, menyenangkan, dan mengikuti apa kata gembalanya.
Bila sudah demikian, sang gembala pun sulit membedakan mana domba mana serigala. Oleh karena, tidak jarang, yang jahat itu tidak tampil dalam wajah monster yang menakutkan, monster sadistis. Tetapi, yang jahat itu bisa tampil begitu lugu, seperti tidak berdosa, berwajah Arjuna bukan Rahwana.
Orang akan mudah terkecoh oleh penampilan. Sejarah sangat mudah memberikan contoh. Apakah Adolf Eichmann yang bertanggung jawab atas pembunuhan jutaan orang Yahudi di kamar gas berwajah sadistis?
Apakah Pol Pot yang bertanggung jawab atas pembunuh 1,5 – 2 juta orang Kamboja, berwajah bengis? Apakah Napoleon Bonaparte dan juga Mao Zedong berwajah sangar?
Tidak! Mereka adalah orang-orang yang murah senyum. Tetapi, senyumnya itu senyum mematikan. Di balik senyumnya tersimpan kejahatan. Sepintas tidak ada garis-garis kejahatan pada wajahnya.
Yang jahat tidak selalu tampil dalam wajah monster sadistis, melainkan bisa dalam sosok orang baik-baik yang patuh pada aturan—baik aturan negara maupun aturan agama.
Baca Juga: Liga Inggris: Manchester United dihajar di kandang Watford
Kisah keserigalaan manusia sebenarnya sudah dimulai sejak tragedi pembunuhan Abil (Abel) oleh Kain. Inilah kejahatan pertama yang dilakukan anak manusia. Sejak saat itu, manusia seperti ditempeli pada dirinya sifat-sifat jahat; kuasa kejahatan. Yang jahat itu tidak ada di luar manusia tetapi ada di dalam diri manusia, di dalam hati manusia.
Di sanalah kejahatan itu berada. Kejahatan itu keluar dari hati manusia yang dirasuki tabiat Kain, menjadi horor dan teror bagi sesama. Teror adalah usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan (KBBS).
Praktik teror, itulah yang disebut terorisme. Kata terorisme berasal dari kata dalam bahasa Latin, yakni terrere yang berarti menakuti, mengejutkan, menggentarkan. Karena itu terorisme adalah tindakan menggunakan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan, entah tujuan politik atau tujuan yang lain.
Baca Juga: Menpora Setuju Pengatur Skor Sepak Bola Dihukum Berat!
III
Artikel Terkait
Nama Sri Sultan Hamengku Buwono IX Bisa dan Layak Dijadikan Nama Bandara Internasional Yogyakarta
HUJAN KASIH Oleh: Yudi Latif, Cendekiawan
POLITIK WHATSAPP Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan senior, Penulis Buku
SINDROM TIKUS Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
KELOR, BUNG NASRIN DAN PARAMAKARYA 2021 oleh : Lalu Gita Ariadi