KALA MARICA oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Senin, 22 November 2021 | 10:21 WIB
Seniman Instalasi Günther Uecker (Istimewa)
Seniman Instalasi Günther Uecker (Istimewa)
Ilustrasi Stop Terorisme
Ilustrasi Stop Terorisme (Pixabay)

Terorisme, muncul dalam banyak wajah. Ia bagaikan Rahwana atau Dasamuka, yang memiliki sepuluh wajah.

Ia juga dapat menjelma seperti Sarpakenaka seorang rakshasi atau rakshasa wanita berwajah jelek, adik kandung Rahwana, yang bisa berubah menjadi seorang wanita sangat cantik jelita. Tetapi kecantikannya membawa bencana.

Ia juga bisa seperti Kala Marica, raksasa pembantu Rahwana yang bisa berubah menjadi Kijang Emas, yang memikat Dewi  Sinta.

Baca Juga: Solo, Yogya dan Bali Jadi Pilot Project Wellness Tourism Indonesia, Apa itu Wellness Tourism?

Karena bisa berubah rupa, maka terorisme bisa pula masuk ke mana-mana: ke berbagai organisasi, lembaga—segala macam lembaga mulai dari pendidikan, politik, ekonomi, keamanan, sosial, bahkan hingga agama—baik swasta maupun pemerintah, kelompok maupun komunitas rakyat jelata.  Ia bagaikan darah yang mengaliri seluruh tubuh mahkluk hidup.

Maka tidak heran, muncul teror atas nama agama, misalnya—meskipun tak satupun agama mengajarkan kejahatan, menganjurkan teror. Tetapi, teror atas nama agama—ada yang menyebut sebagai teror suci—merupakan fenomena yang selalu terjadi. David  C Rapoport (2004) menggolongkan teror agama sebagai teror gelombang keempat yang dimulai tahun 1979, hingga kini.

Baca Juga: Ole Gunnar Solkjaer dipecat setelah Manchester United kalah dari Watford. Siapa penggantinya?

Gelombang terorisme modern pertama adalah anarki dimulai di Rusia pada tahun 1880-an dan berlangsung hingga tahun 1920-an. Gelombang kedua yakni antikolonial, dimulai pada tahun 1920-an dan berakhir pada tahun 1960. Dan, gelombang ketiga adalah gerakan kiri baru, yang dimulai pada tahun 1960 dan berlanjut hingga tahun 1980-an.

Kata F Gerges (2014, “ISIS and the third wave of jihadism”, Current History, 2014), gelombang keempat ini dibagi dalam tiga fase. Fase pertama, berlangsung sampai akhir dekade 1990, tokohnya adalah Abu Musab al-Zarqawi (1966-2006). Lalu, Osama bin Laden (1957-2011) memimpin fase kedua dengan al-Qaeda-nya. Dan fase ketiga dipimpin oleh Abu Bakar al-Bagdhadi (1971-2019) dengan ISIS-nya.

Oleh para pelakunya—teror atas nama agama—dipandang sebagai tindakan transendental; dibenarkan oleh otoritas agama, yang melakukan pun akan “besar upahnya di surga.”

Baca Juga: Bertambah! Korban Dukun Pengganda Uang di Magelang Jadi 3 Orang, Mereka Tewas Diracun Pelaku

Tetapi, darah Abil yang membasahi bumi akan terus mengalir, mengejar keturunan Kain yang menebar kematian, menyebarkan kekejian yang membinasakan itu. Mereka ini tidak memelihara kehidupan, tetapi lebih memilih dan mengunggulkan kematian, bahkan kematian hati dan jiwanya  sendiri.***

 

Sumber: https://triaskun.id/2021/11/21/kala-marica/

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: Trias Kuncahyono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X