Siapa yang mengendalikan gerobak sapinya kembali ke rumah, ke kandang? Siapa yang memutar-balik arah gerobak sapinya?
“Begitu ceritanya, Mas,” tulis Pakde yang mengirimkan cerita pendek ini.
Baca Juga: Sri Sultan Tegaskan Penyaluran Bansos Harus Bebas dari Potongan Liar
II
Pakde tidak banyak komentar. Tidak seperti biasanya. Ia hanya mengirimkan cerita tersebut.
Di bawah cerita, Pakde menulis, “mungkin euphoria reformasi Indonesia masih belum sampai membalikkan ‘Cikar Reformasi’.” Artinya, balik “pulang kandang” seperti gerobak sapi itu, yang pulang ke Mojosari tidak meneruskan jalan ke Surabaya.
Gerobak sapi pengangkut bambu itu “balik kanan,” karena, saisnya tertidur. Tidak demikian dengan “Cikar Reformasi.”
Baca Juga: Pantai Coro Tulungagung, Surga Bagi Wisatawan yang Mencari Ketenangan Batin
Sebab, sais “Cikar Reformasi”, sama sekali tidak tidur. Bahkan, tidak sempat tidur. Memejamkan matanya sekejap pun, tidak punya waktu. Memejamkan mata adalah sebuah kemewahan.
Ia bekerja keras untuk mengendalikan kedua sapinya agar terus bergerak, maju ke depan menarik cikar sampai ke tujuan untuk mengantarkan bambu-bambu pesanan.
Bila bambu-bambu terjual, maka akan memberikan kesejahteraan banyak petani bambu. Itu harapannya.
Baca Juga: Hotel Pelangi, Hotel Tertua dan Saksi Bisu Sejarah Kota Malang
Akan tetapi, jalan ke “Surabaya” banyak gangguan. Ia terus diganggu oleh “Opas Polisi” yang ingin membalikkan arah gerak “Cikar Reformasi.”
Dan, “Opas Polisi” sekarang beda dengan yang dulu. Dulu adalah kaki tangan penjajah Belanda. Sekarang, adalah manifestasi oligarki.
Kata Jeffrey A Winters, oligarki tidak menunjuk pada sistem kekuasaan oleh sekumpulan pelaku tertentu.
Artikel Terkait
RABU MALAM Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
OMONGAN PAKDHE BENAR Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
BAHAYA LATEN Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
EMAKNYA SETAN oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
HIKAYAT CELENG Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
HUJAN KASIH Oleh: Yudi Latif, Cendekiawan