BAHAYA LATEN Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Kamis, 30 September 2021 | 07:03 WIB
Lapangan Merah, Kremlin, Moskow, Rusia (Foto: Wikipedia by Christophe Meneboeuf )
Lapangan Merah, Kremlin, Moskow, Rusia (Foto: Wikipedia by Christophe Meneboeuf )

Selama ini, istilah “bahaya laten” dikaitkan atau bahkan hanya dikaitkan dengan PKI, dengan komunisme, yang  dicurigai—bahkan ada yang meyakini—masih ada walau tidak terlihat; walau menurut catatan sejarah sudah diberantas pada tahun 1965.

Baca Juga: TNI-Polri Jamin Keamanan Pelaksanaan PON XX Di Papua

Peristiwa 1965-1966 merupakan suatu peristiwa tragedi kemanusiaan yang menjadi lembaran sejarah hitam bangsa Indonesia. Peristiwa tersebut terjadi sebagai akibat dari adanya kebijakan negara pada waktu itu untuk melakukan penumpasan terhadap para anggota dan pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dianggap telah melakukan tindakan perlawanan terhadap negara (komnasham.go.id)

Dua-puluh enam tahun kemudian, pada tahun 1991, di “tanah kelahirannya”, yakni Uni Soviet, komunisme mati, dengan bubarnya Uni Soviet. Sisa-sisanya tidak menarik lagi rakyat di negeri itu.

Pemilu pertama di Rusia—pasca-Uni Soviet—untuk memperebutkan 450 kursi di  Duma (Majelis Rendah) dimenangi oleh Partai Demokratik Liberal Rusia (LDPR). Meski masih ada yang memilih—terutama orang-orang tua—partai komunis; sekadar nostalgia.

Baca Juga: Antisipasi Lonjakan Covid-19 PON XX Papua, Kapal Sirimau Jadi Tempat Isoter

Negeri-negeri di Eropa Timur yang selama berdasarwarsa menganut paham komunisme juga sudah membuangnya; mencampakkannya. Mereka menjadi negara demokrasi. China yang selama ini mengklaim sebagai negara komunis, tetapi nyatanya menganut ekonomi pasar. Ideologi mereka adalah duit, sekarang ini.

Maka, ada yang mengatakan, China itu “negara kapitalis dengan rangka pemerintahan partai komunis.” Yang masih bertahan sebagai negara komunis, hanyalah Korea Utara. Tetapi sebagai negara, Korea Utara, hidupnya terengah-engah. Bahkan kadang disebut sebagai failed state, negara gagal.

Tentang kematian komunisme sudah disebut Francis Fukuyama dalam esainya di The National Interest (1989) yang diberi judul  The End of History.  Ia menyatakan, kita mungkin menyaksikan tidak hanya akhir Perang Dingin, atau berlalunya periode sejarah pasca-perang, tetapi akhir sejarah. Komunisme telah mati, katanya, sebelum dia mati.

Baca Juga: Sembuh dari Covid-19, Ini 5 Gejala Post Covid Syndrome yang Paling Sering Dirasakan

II - Maka itu ada yang mengatakan, sebagai paham, komunisme telah telah gagal. Menurut Franz Magnis-Suseno, mereka telah gagal baik sebagai teori maupun sebagai ideologi (Kompas, 9 Juli 2020). Tetapi, mengapa selalu disebut sebagai bahaya laten?

Halaman:

Artikel Selanjutnya

TV SEBAGAI DEMAGOG BUDAYA MASSA?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: Trias Kuncahyono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X