Selama ini, istilah “bahaya laten” dikaitkan atau bahkan hanya dikaitkan dengan PKI, dengan komunisme, yang dicurigai—bahkan ada yang meyakini—masih ada walau tidak terlihat; walau menurut catatan sejarah sudah diberantas pada tahun 1965.
Baca Juga: TNI-Polri Jamin Keamanan Pelaksanaan PON XX Di Papua
Peristiwa 1965-1966 merupakan suatu peristiwa tragedi kemanusiaan yang menjadi lembaran sejarah hitam bangsa Indonesia. Peristiwa tersebut terjadi sebagai akibat dari adanya kebijakan negara pada waktu itu untuk melakukan penumpasan terhadap para anggota dan pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dianggap telah melakukan tindakan perlawanan terhadap negara (komnasham.go.id)
Dua-puluh enam tahun kemudian, pada tahun 1991, di “tanah kelahirannya”, yakni Uni Soviet, komunisme mati, dengan bubarnya Uni Soviet. Sisa-sisanya tidak menarik lagi rakyat di negeri itu.
Pemilu pertama di Rusia—pasca-Uni Soviet—untuk memperebutkan 450 kursi di Duma (Majelis Rendah) dimenangi oleh Partai Demokratik Liberal Rusia (LDPR). Meski masih ada yang memilih—terutama orang-orang tua—partai komunis; sekadar nostalgia.
Baca Juga: Antisipasi Lonjakan Covid-19 PON XX Papua, Kapal Sirimau Jadi Tempat Isoter
Negeri-negeri di Eropa Timur yang selama berdasarwarsa menganut paham komunisme juga sudah membuangnya; mencampakkannya. Mereka menjadi negara demokrasi. China yang selama ini mengklaim sebagai negara komunis, tetapi nyatanya menganut ekonomi pasar. Ideologi mereka adalah duit, sekarang ini.
Maka, ada yang mengatakan, China itu “negara kapitalis dengan rangka pemerintahan partai komunis.” Yang masih bertahan sebagai negara komunis, hanyalah Korea Utara. Tetapi sebagai negara, Korea Utara, hidupnya terengah-engah. Bahkan kadang disebut sebagai failed state, negara gagal.
Tentang kematian komunisme sudah disebut Francis Fukuyama dalam esainya di The National Interest (1989) yang diberi judul The End of History. Ia menyatakan, kita mungkin menyaksikan tidak hanya akhir Perang Dingin, atau berlalunya periode sejarah pasca-perang, tetapi akhir sejarah. Komunisme telah mati, katanya, sebelum dia mati.
Baca Juga: Sembuh dari Covid-19, Ini 5 Gejala Post Covid Syndrome yang Paling Sering Dirasakan
II - Maka itu ada yang mengatakan, sebagai paham, komunisme telah telah gagal. Menurut Franz Magnis-Suseno, mereka telah gagal baik sebagai teori maupun sebagai ideologi (Kompas, 9 Juli 2020). Tetapi, mengapa selalu disebut sebagai bahaya laten?
Artikel Selanjutnya
TV SEBAGAI DEMAGOG BUDAYA MASSA?
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Sumber: Trias Kuncahyono
Artikel Terkait
TV SEBAGAI DEMAGOG BUDAYA MASSA?
NIZAM AL-MULK Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Batik, Dibabar dan Dititik. Jangan Pernah Menyebut Ecoprint Sebagai Batik
RABU MALAM Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
OMONGAN PAKDHE BENAR Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku