I
Saya jadi ingat cerita ludruk klasik. Cerita ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Lucu, ceritanya .
Suatu senja, sebuah cikar ditarik dua sapi—gerobak sapi—meninggalkan Mojosari, Mojokerto menuju Surabaya. Mojosari, kota kecil di kaki Gunung Welirang, adalah sebuah kota kecamatan, berada sekitar 18 km sebelah timur Mojokerto.
Karena hawanya sejuk dan segar, kota kecamatan yang terletak sekitar 15 km utara Pacet ini, disebut sebagai Mozart van Java dan terkenal dengan bebeknya, bebek mojosari, kualitas unggulan.
Baca Juga: Di Bandung, Anak-anak Sekarang Boleh Menonton Bioskop
Jarak antara Mojosari – Surabaya, sekitar 85 km. Cikar itu mengangkut bambu. Berjalan pelan-pelan menyusuri jalan menuju Surabaya. Sepi, ketika itu, jalanan. Lewat tengah malam, sais cikar atau gerobak sapi itu, tertidur.
Sapi berjalan terus menarik cikar menuju ke rumah pelanggan bambu, yang sudah dikenalnya. Sudah berkali-kali kedua sapi itu menarik cikar ke pelanggan yang sama.
Karena tidak dikendalikan, gerobak sapi itu berjalan terlalu ke tengah jalan. Kebetulan seorang Opas Polisi melihatnya. Opas Polisi tahu, bahwa sais-nya pasti tertidur.
Baca Juga: Partai Gerindra Jateng Deklarasikan Prabowo Subianto Menjadi Capres 2024
Tanpa berpikir panjang, Opas Polisi menghentikan gerobak sapi itu dan memutar arah, kembali ke Mojosari. Kedua sapi, menurut saja. Si sais, tidak tahu. Ia masih tidur pulas ditemani mimpi.
Dan, berjalanlah cikar, gerobak sapi itu kembali menuju Mojosari. Opas Polisi, tertawa melihat semua itu.
Selepas subuh, kedua sapi dengan gerobaknya berhenti persis di depan kandang, balik kandang. Si sais terbangun.
Baca Juga: Menikmati Salad Jawa di Warung Selat Mbak Lies
Ia terkaget-kaget, kok sudah di rumah, tidak di rumah pelanggan yang akan membeli bambunya.
Artikel Selanjutnya
RABU MALAM Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Sumber: Trias Kuncahyono
Artikel Terkait
RABU MALAM Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
OMONGAN PAKDHE BENAR Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
BAHAYA LATEN Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
EMAKNYA SETAN oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
HIKAYAT CELENG Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
HUJAN KASIH Oleh: Yudi Latif, Cendekiawan