RABU MALAM Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Minggu, 26 September 2021 | 08:50 WIB
Ilustrasi Wednesday (Foto: istimewa)
Ilustrasi Wednesday (Foto: istimewa)

Malam itu, seperti biasa kami bertemu. Sambil, minum—sejak pandemi kami membawa minuman sendiri-sendiri dari rumah: ada yang membawa wedang jahe, ada yang membawa empon-empon, ada yang kopi, ada yang seneng teh, ada juga air putih saja. Meskipun, sebenarnya di tempat kami bertemu disediakan minuman— jajanan  dan sesekali nasi goreng atau bubur ayam.

Baca Juga: Kasus Penganiayaan Muhammad Kece, Propam Periksa Kepala Rutan Bareskrim

Tidak ada agenda khusus setiap kali bertemu. Kami ngobrol. Ya, ngobrol saja,  bertukar cerita, bertukar pengalaman, bertukar kisah sehari-hari. Yang diobrolkan beragam:  soal ekonomi, kondisi masyarakat karena covid, dan tentu politik yang biasanya sangat menarik, dengan tidak lupa beserta korupsinya.

Bicara politik, memang menarik. Kata David Runciman, profesor politik dari Cambridge University, Inggris yang membedakan satu negara dengan negara lain adalah politik. Runciman dalam bukunya Politics (2014), membandingkan antara Suriah dan Denmark.

Tujuh tahun lalu, Runciman menulis, “Jika Anda hidup di Suriah saat ini, Anda akan terjebak dalam semacam neraka: hidup menakutkan, kejam, tak terduga, miskin…..” Suriah berantakan digenggam dan dipeluk perang saudara lalu menjadi perang sektarian, perang yang melibatkan kekuatan asing—AS, Rusia, Turki, Arab Saudi, Iran, dan negara-negara Arab lainnya.

Baca Juga: Azis Syamsuddin dalam Pusaran Kasus Suap, Ini Profilnya

Hasilnya? Negara itu hancur. Rakyatnya menderita. Jutaan orang mengungsi, ke berbagai negara, utamanya Eropa. Mungkin, kisah yang mirip dialami Afganistan.

Tentang Denmark Runciman menulis antara lain, “Jika Anda cukup beruntung untuk tinggal di Denmark, Anda berada dalam apa yang menurut standar sejarah adalah versi surga: hidup nyaman, makmur, terlindungi dan beradab, dan itu langgeng. Dunia iri pada Denmark dengan restorannya yang fantastis, program televisinya yang berkelas, budaya desainnya yang elegan, ketentuan jaminan sosialnya begitu baik, gaya hidup ramah lingkungan. Orang Denmark secara teratur melaporkan bahwa mereka lebih bahagia daripada siapa pun….”

II - Semua itu karena politik. Sebab, demikian tujuan mulianya kerja politik yakni untuk bonum commune, kemaslahatan bersama, kesejahteraan bersama. Itu berarti kerja politik seharusnya bermartabat. Kalau tidak bermartabat, maka akan terjadi pembusukan politik. Apabila para pekerja politik, tidak bermartabat, politik akan seperti hutan rimba, yang akan mengikuti hukum survival of the fittest (Herbert  Spencer). Hal itu terjadi, mungkin karena seperti diistilahkan oleh Amy  Chua (2018), “humans are tribal.”

Baca Juga: Catat Tanggalnya! Ini  16 Hari Libur dan Cuti Bersama Tahun 2022

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: Trias Kuncahyono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X