Malam itu, seperti biasa kami bertemu. Sambil, minum—sejak pandemi kami membawa minuman sendiri-sendiri dari rumah: ada yang membawa wedang jahe, ada yang membawa empon-empon, ada yang kopi, ada yang seneng teh, ada juga air putih saja. Meskipun, sebenarnya di tempat kami bertemu disediakan minuman— jajanan dan sesekali nasi goreng atau bubur ayam.
Baca Juga: Kasus Penganiayaan Muhammad Kece, Propam Periksa Kepala Rutan Bareskrim
Tidak ada agenda khusus setiap kali bertemu. Kami ngobrol. Ya, ngobrol saja, bertukar cerita, bertukar pengalaman, bertukar kisah sehari-hari. Yang diobrolkan beragam: soal ekonomi, kondisi masyarakat karena covid, dan tentu politik yang biasanya sangat menarik, dengan tidak lupa beserta korupsinya.
Bicara politik, memang menarik. Kata David Runciman, profesor politik dari Cambridge University, Inggris yang membedakan satu negara dengan negara lain adalah politik. Runciman dalam bukunya Politics (2014), membandingkan antara Suriah dan Denmark.
Tujuh tahun lalu, Runciman menulis, “Jika Anda hidup di Suriah saat ini, Anda akan terjebak dalam semacam neraka: hidup menakutkan, kejam, tak terduga, miskin…..” Suriah berantakan digenggam dan dipeluk perang saudara lalu menjadi perang sektarian, perang yang melibatkan kekuatan asing—AS, Rusia, Turki, Arab Saudi, Iran, dan negara-negara Arab lainnya.
Baca Juga: Azis Syamsuddin dalam Pusaran Kasus Suap, Ini Profilnya
Hasilnya? Negara itu hancur. Rakyatnya menderita. Jutaan orang mengungsi, ke berbagai negara, utamanya Eropa. Mungkin, kisah yang mirip dialami Afganistan.
Tentang Denmark Runciman menulis antara lain, “Jika Anda cukup beruntung untuk tinggal di Denmark, Anda berada dalam apa yang menurut standar sejarah adalah versi surga: hidup nyaman, makmur, terlindungi dan beradab, dan itu langgeng. Dunia iri pada Denmark dengan restorannya yang fantastis, program televisinya yang berkelas, budaya desainnya yang elegan, ketentuan jaminan sosialnya begitu baik, gaya hidup ramah lingkungan. Orang Denmark secara teratur melaporkan bahwa mereka lebih bahagia daripada siapa pun….”
II - Semua itu karena politik. Sebab, demikian tujuan mulianya kerja politik yakni untuk bonum commune, kemaslahatan bersama, kesejahteraan bersama. Itu berarti kerja politik seharusnya bermartabat. Kalau tidak bermartabat, maka akan terjadi pembusukan politik. Apabila para pekerja politik, tidak bermartabat, politik akan seperti hutan rimba, yang akan mengikuti hukum survival of the fittest (Herbert Spencer). Hal itu terjadi, mungkin karena seperti diistilahkan oleh Amy Chua (2018), “humans are tribal.”
Baca Juga: Catat Tanggalnya! Ini 16 Hari Libur dan Cuti Bersama Tahun 2022
Artikel Selanjutnya
KPK Tahan Bupati Banjarnegara, Tuduhannya Maling Uang Rakyat Rp2,1 Miliar
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Sumber: Trias Kuncahyono
Artikel Terkait
KPK Tahan Bupati Banjarnegara, Tuduhannya Maling Uang Rakyat Rp2,1 Miliar
Ini Perjalanan Politik Dinasti Bupati Probolinggo Selama 18 Tahun
Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono: Pernah Jadi Bandar dan Over Dosis Narkoba
Apes ! Sudah Keluar Uang, 17 ASN di Probolinggo Ini Malah Ditahan KPK
KPK Perpanjang Penahanan Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari dan Suaminya Hasan Aminudin