opini

'BAKMI JAWA' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Selasa, 21 Juni 2022 | 08:48 WIB
Penulis bersama teman-teman sekolah (Istimewa)

Baca Juga: Kenali Warna-Warna Stiker Bus Shalawat Agar Tidak Salah Rute Saat Berada di Makkah

Alasan pertama, tentu, untuk membedakan dengan yang asli. Bakmi Jawa bukan Mie China. Kedua, yang beda bukan hanya namanya, rasanya pun beda disesuaikan dengan selera rasa, lidah orang-orang Yogya (walau kemudian diterima oleh orang-orang luar Yogya). Beda rasa karena bumbunya berbeda.

Bakmi Jawa menggunakan kemiri agar gurih rasanya, yang digoreng terlebih dahulu (ada yang memilih tidak berbumbu kemiri). Bakmi China tidak. Selain kemiri, Bakmi Jawa juga menggunakan telur bebek atau ayam, daging ayam kampung suwir, daun bawang, tomat, kobis, lalu ditaburi bawang merah goreng dan rajangan daun seledri. Yang suka cabe rawit, bisa tambah cabe rawit dan acar timun-bawang merah.

Dan dimakan ketika kuah masih panas….wow, enaknya. Meskipun harus sabar makannya. Pelan-pelan karena panas, ditiup-tiup dulu sambil menikmati harum lezat, gurih bakmi yang menguar. Inilah salah satu, bahasa menterengnya filosofi, makan Bakmi Jawa: Belajar sabar.

Baca Juga: CERBUNG, Inspirasi Melankolis..! Episode 5: LOVE IN TURKEY, Oleh: AhliyaMujahidin

Pelajaran kesabaran itu juga diberikan saat menunggu pesanan. Biasanya lama. Karena Bakmi Jawa dimasak per porsi dengan menggunakan anglo (tungku dari tanah liat), dan berbahan bakar arang. Selain proses masaknya sedikit lama, biasanya juga harus antre untuk dilayani. Apalagi makan di warung Bakmi Jawa yang kondang. Bahkan, untuk nambah pun harus antre.

Makan Bakmi Jawa memang diajari sabar dan tertib mengikuti aturan (antre) dan proses. Tidak bisa bermental instan, minta didahulukan karena sudah lapar sekali. Tidak bisa potong kompas, minta prioritas. Tidak bisa mempercepat proses. Tidak bisa juga menggunakan katabelece agar cepat dilayani. Pejabat atau rakyat biasa, sama saja: antre. Priyayi atau pidak pedarakan, hina dina sami mawon: antre.

Pendek kata, semua ada tahapannya. Tidak bisa kesusu. Ojo kesusu, kata Pak Jokowi. Kalau waktunya belum tiba, belum bisa juga menikmati bakmi. Harus cukup puas melihat orang lain menikmati bakmi panas dengan lahapnya. Semua ada waktunya, seperti dikatakan Sang Pengkhotbah: Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.

Baca Juga: Link Cerita Horor Lemah Layat Agar Mudah Memahami Trilogi Sewu Dino SimpleMan

Seorang anak kecil pun tidak tiba-tiba mampu berjalan. Ia harus melalui tahapan merangkak, sebelum bisa berdiri tegak. Ketika pertama bisa berjalan pun tidak lantas bisa langsung berlari. Karena belum mampu menjaga keseimbangan tubuh. Baru setelah mampu menjaga kesimbangan tubuh, bocah itu bisa berjalan cepat dan akhirnya lari.

Karena semua ada waktunya, maka tidak bisa nggege mangsa, jangan memaksakan diri dalam memperoleh hasil sebelum waktunya. Hari masih pagi, sudah ingin berkuasa. Tetapi, tidak mempertimbangkan kemampuannya untuk menanggung beban tanggung jawab sebagai seorang pemimpin.

***

Pedagang Bakmi Jawa juga mengajarkan keterbukaan. Mereka selalu menempatkan gerobaknya di depan, sehingga para pembeli dapat melihat secara jelas seluruh proses masak bakmi. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Semua terbuka. Jujur.

Baca Juga: FORMULA 1: Max Verstappen Tak Tertahan, Juara di GP F1 Kanada. Kemenangan Ketujuh dari 9 Balapan Musim Ini

Seperti dikatakan Franz Magnis-Suseno (1992), kejujuran itu, bukan sekadar tuntutan etika, tetapi merupakan tuntutan rasionalitas politik… bagi siapa saja, entah itu politisi entah para penjual Bakmi Jawa. Kejujuran bagi para penjual Bakmi Jawa merupakan salah satu prasyarat agar aktivitasnya sebagai penjual Bakmi Jawa mencapai tujuannya: masakannya enak dan dagangannya laku keras.

Halaman:

Tags

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB