TITIKTEMU.CO
APA YANG SALAH
Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Ya, apa yang salah di negeri ini, Bung? Begitu pertanyaan seorang kawan, suatu sore pada hari Rabu, sebagaimana biasanya kami bertemu, untuk ngobrol dan ngopi. Kawan itu bertanya setelah jagad media sosial juga media online ramai membahas cuitan soal stupa di Candi Borobudur.
Memang, ada-ada saja yang dijadikan sebagai bahan untuk menyulut keributan, kehebohan, dan kegaduhan. Dan, ada pula orang yang hobi mencari-cari hal untuk diributkan, digoreng-goreng, dibumbu-bumbuin, dan kemudian disebarluaskan lewat media sosial.
Lantas–kalau sudah ribut, hiruk-pikuk, gaduh, muncul beragam komentar dari segala penjuru dan dari berbagai orang baik dari orang biasa sampai yang tidak biasa, media sosial heboh, muncul kebencian, masuk ke ranah hukum–minta maaf. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Baca Juga: Yeremia Cedera Lutut di Gim Penentuan, Ganda Putra Indonesia Gagal ke Semifinal Indonesia Open 2022
Padahal kata orang, “the damage has been done.” Maka, ucapan minta maaf itu sama sekali tak memulihkan keadaan. Memang, minta maaf itu penting. Itu adalah ekspresi, ungkapan dari rasa bersalah, pengakuan telah berbuat salah. Tetapi, sekali lagi, kerusakan telah terjadi. Anyaman tikar kebangsaan, robek sudah.
Dan hal seperti itu, berulangkali terjadi, dilakukan oleh berbagai orang dengan beragam motivasi, bermacam-macam kehendak hati dan tujuan. Seperti nggak ada persoalan yang lebih penting bagi bangsa dan negara ini ketimbang bikin bising heboh, gaduh, menebar hoaks, berita bohong, kebencian, dan juga isu-isu yang memecah-belah.
Baca Juga: CERBUNG, Inspirasi Melankolis: Episode 3 'LOVE IN TURKEY' Oleh: Ahliya Mujahidin
***
Layak dan pantas, kalau ada yang bertanya: Mengapa orang suka membuat keributan? Mengapa orang senang membuat kegaduhan? Apa yang ia atau mereka cari? Apakah mencari keuntungan politik? Keuntungan finansial? Melemahkan pemerintah atau mau menunjukkan bahwa pemerintah tak berdaya? Perpecahan bangsa? Atau sekadar cari popularitas?
Ya, banyak memang sekarang ini yang mencari popularitas. Tidak hanya politisi yang senang mencari popularitas, tapi juga pejabat atau yang sudah mantan, pemimpin agama, dan juga rakyat biasa. Popularitas adalah tingkat keterkenalan di mata publik. Berbagai cara dilakukan untuk popular, mulai dari cara yang elegan sampai yang, katakanlah, recehan. Maka disebut popularitas murahan, popularitas recehan.
Dikiranya, popularitas itu segala-galanya. Padahal, popularitas itu bukan segala-galanya. Apalagi jika popularitas itu semu karena diperoleh melalui rekayasa sedemikian rupa tanpa usaha maksimum. Barangkali seperti “buah karbitan”, terlihat masak, matang tapi nggak manis sama sekali.
Artikel Terkait
"PESAN DARI ENDE" Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
"THE GODFATHER" Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Link Cerita Horor Padusan Pituh SimpleMan, Spin-Off Sewu Dino, Janur Ireng dan Ranjat Kembang
OPINI: "TOPENG-TOPENG" Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Cerita Horor SimpleMan Desa Gondo Mayit, Kisah Mistis Pendaki Gunung
"KETIBAN PULUNG" Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
CERBUNG: Inspirasi Melankolis.....! "SEBATAS AURORA" Oleh: Triana Rahayu, Episode : V
RESHUFFLE, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku