Bung, berita tentang Rara Istiani Wulandari yang pekan lalu viral dan dimuat berbagai media, itulah yang membawa ingatan saya pada Rara Mendut. Nama Rara Istiani Wulandari muncul saat digelar MotorGP di Sirkuit Mandalika, Lombok, pekan lalu. Ia bukan pembalap. Tetapi, pawang hujan.
Nah, karena profesinya inilah, Rara tidak hanya diberitakan, diceritakan, tetapi bahkan banyak dihujat, dikritik, dan dikecam habis-habisan oleh “sekelompok” orang. Apa salahnya dengan profesi itu, Bung? Tentu, pertanyaan itu yang harus dikemukakan.
Baca Juga: Menunggu Kejutan di GP Arab Saudi 2022, Charles Leclerc Menjuarai Balapan F1 Duakali Berturut-turut?
Bagi para penentangnya, apa pun penjelasan yang disampaikan Rara pasti tidak akan diterima. Ya, namanya saja tidak suka. Maka akan dicari seabreg dalil-dalil untuk membenarkan argumen-argumennya, entah itu masuk akal atau tidak, tidak peduli. Karena menganggap alasannya benar, bahkan paling benar. Ya, namanya tidak suka, namanya benci, namanya berdiri di tempat yang berseberangan, maka akan menutup mata, telinga, dan hatinya terhadap pihak lain yang dibencinya, yang ditentangnya, yang dilawannya.
Dahulu, Rara Mendut yang walau perempuan rampasan, tetapi memiliki sikap, pendirian, filosofi hidup yang kukuh. Ia mencari cara bagaimana bisa lolos dari “sergapan” nafsu Tumenggung Wiraguna. Meskipun akhirnya tak berdaya karena kekejaman Tumenggung Wiraguna.
Baca Juga: Umat Islam Boleh Salat Tarawih di Masjid, Begini Kata MUI
Kini zaman sudah berubah—walau ada yang masih merasa di zaman lalu, istilahnya zaman kuda gigit besi. Maka, berbagai komentar miring bahkan miring sekali yang bertubi-tubi dialamatkan padanya karena profesinya, tidak membuat Rara ciut nyali. Ia setegar Rara Mendut menghadapi Tumenggung Wiraguna yang menggunakan kekuasaannya untuk mewujudkan nafsunya. Walau tindakan Rara disebut sebagai “kebodohan” di zaman moderen ini.
Ada yang cerewet (maaf), usil, suka mengkafirkan orang lain (menganggap dirinya paling saleh, paling suci) suka mensirikkan orang lain, senang membodoh-bodohkan dan mendungu-ndungukan orang lain (menganggap dirinya paling pandai, paling pinter). dan ada pula yang lebih suka memuja-muja budaya asing serta membuang budaya sendiri yang adiluhung tapi dianggap usang dan harus dibuang.
Ada pula yang menganggap apa yang dilakukan Rara sebagai tidak bernalar dan berbau klenik. Yang lain menganggapnya sebagai tindakan memalukan dan mendekatkan diri pada jin. Dan, beragam hujatan lainnya yang hanya membuktikan bahwa kita paling hebat dalam hal menghujat orang lain; sekaligus paling sulit untuk mengakui kehebatan orang lain.
Tapi untung, Rara sudah sangat paham akan tabiat, karakter, “penyakit” sebagian—semoga sebagian kecil bahkan kecil sekali saja—anggota masyarakat zaman sekarang. Sama dengan Rara Mendut, yang paham akan intrik politik dan tradisi feodalisme yang sangat kuat pada masa itu. Sekarang bukan hanya intrik politik tetapi juga agama; agama yang dipolitisasi. Sedikit-sedikit dipolitisasi.
III
Apakah itu adalah “buah” dari kemajemukan, kebhinnekaan kita? Semestinya bukan. Atau apakah ada yang salah dari masyarakat kita ini? Apakah kita dan sebagian anggota masyarakat sedang sakit?
Rasanya perlu diterima dan dipahami—terutama yang belum menerima dan belum atau malah tidak mau memahami—bahwa realitas deskriptif Indonesia adalah kebhinnekaan, sebagai representasi dari karakter sub-budaya atau etnik yang berbeda-beda. Itu berarti kebhinnekaan kita lebih dahulu ada sebelum persatuan.
Baca Juga: Menjelang Maghrib Tayang 31 Maret, Film Horor Perempuan yang Dipasung