Orang juga mengatakan, nyinyir sebenarnya merupakan cerminan ketidakmampuan si pelaku nyinyir untuk melakukan hal sama (dalam hal-hal baik) seperti yang dilakukan orang lain, obyek nyinyiran. Dengan kata lain, nyinyir adalah ungakapan iri hati. Ungkapan iri hati diungkapkan lewat mulutnya sendiri atau meminjam mulut orang lain; dengan jarinya sendiri atau jarinya orang lain.
Baca Juga: Batas Akhir SPT Wajib Pajak Orang Pribadi 31 Maret, Begini Cara Lapornya
II
Sebenarnyalah, upacara menyatukan tanah dan air dari 34 propinsi di negeri ini tidak ada yang aneh. Secara sederhana, tanah dan air itu merupakan ungkapan perwujudan Ibu Pertiwi. Ini secara simbolis mengungkapkan persatuan dan kesatuan seluruh bangsa.
Kata Cak Kardi, penyatuan tanah dan air yang dibawa para gubernur pada dasarnya adalah simbol sumber kehidupan bersama. Simbol persatuan seluruh suku, adat, budaya, dan juga agama yang hidup di Indonesia. Simbol kedekatan hati kita sebagai manusia-manusia Indonesia, yang sekarang ini ada yang merasakan “meski dekat tetapi terasa jauh.”
“Cak, penyatuan tanah dan air itu kan juga menjadi memori kolektif anak bangsa bahwa kita ini punya tanah air, tanah kita sendiri, yang selama ini menghidupi kita semua. Bukankah begitu, Cak?”
“Betul sekali, Mas,” komentar Cak Kardi.
Baca Juga: Peristiwa Penting yang Terjadi di Bulan Syaban, Nomor 2 Paling Ditunggu
Penyatuan tanah dan air dari seluruh Indonesia, sebenarnya, juga mengingatkan—sekaligus untuk menyadarkan—orang-orang yang selama ini berteriak-teriak lantang bahwa tanah airnya adalah Indonesia. Tetapi, mereka meneriakkan juga (bahkan lebih lantang dengan menggunakan toa) bahwa ideologinya dari tanah seberang. Padahal, ideologi negara ini—Pancasila—seperti dikatakan Bung Karno adalah mutiara yang digali dari Bumi Pertiwi Indonesia.
Kata Bung Karno: “Kenapa diucapkan terima kasih kepada saya, kenapa saya diagung-agungkan, padahal toh sudah sering saya katakan, bahwa saya bukan pencipta Pancasila. Saya sekedar penggali Pancasila daripada bumi tanah air Indonesia ini, yang kemudian lima mutiara yang saya gali itu, saya persembahkan kembali kepada bangsa Indonesia. Malah pernah saya katakan, bahwa sebenarnya hasil, atau lebih tegas penggalian daripada Pancasila ini saudara-saudara, adalah pemberian Tuhan kepada saya… Sebagaimana tiap-tiap manusia, jikalau ia benar-benar memohon kepada Allah Subhanahu Wata’ala, diberi ilham oleh Allah Subhanahu Wata’ala (Yudi Latif, 2011: 20-21).
Baca Juga: 12 Sekolah Kedinasan, Gratis SPP dan Langsung Kerja Setelah Lulus. Cekidot...
Karena itu, prosesi penyatuan tanah dan air dari seluruh Indonesia ke dalam kendi Nusantara di Titik Nol Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, Sepaku, Kalimantan Timur adalah sebuah momen yang mengingatkan kita semua bahwa ideologi kita digali dari tanah air Indonesia, bukan dari tanah seberang!
III
Kepada Cak Kardi saya katakan bahwa penyatuan tanah dan air dari seluru Indonesia itu mengingatkan akan Sumpah Pemuda. Katakanlah semacam memperbaharui Sumpah Pemuda yang diikrarkan para pemuda pada tahun 1928.
“Cak, kalau saya tidak salah, butir pertama Sumpah Pemuda menyatakan: Kami Poetra dan Poetri Indonesia Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.”