Orang lain sulit “memegang” perkataannya, dan cenderung akan menghindar apabila harus berurusan dengan orang yang tidak konsisten itu.
Baca Juga: Ingat! Belum Divaksin Dilarang Pergi-pergi Selama Libur Nataru
Dalam rumusan yang lebih dalam , antrolopog Niels Mulder (2012) merumuskan sikap semacam itu sebagai cerminan dari orang yang “terkosongkan dari kandungan moral” (emptied of moral content).
Kini yang mengalami “terkosongkan dari kandungan moral”, banyak.
II
Tokoh masyarakat adalah orang-orang yang memiliki pengaruh—tentu dalam hal-hal yang baik—dan ada yang bersifat formal dan informal. Tokoh masyarakat ada yang formal dan pula yang informal. Yang bersifat formal adalah orang-orang yang diangkat dan dipilih oleh lembaga negara dan bersifat struktural, seperti lurah, camat, lurah, sampai ke tingkat atas.
Baca Juga: Simak Tarif Baru Layanan Permohonan Sertifikasi Halal, Berlaku Mulai Desember 2021.
Sedangkan tokoh masyarakat yang bersifat informal adalah orang-orang yang diakui oleh masyarakat karena dipandang pantas menjadi pemimpin yang disegani dan berperan besar dalam memimpin dan mengayomi masyarakat, sagala ucapan dan tindakannya pantas didengarkan serta ditiru.
Ada ujar-ujaran dalam bahasa Jawa yang berbunyi, sejatiné pemimpin iku kang bisa ngayomi lan ngayemi (sesungguhnya pemimpin itu adalah orang yang bisa melindungi dan menenteramkan).
Rasanya banyak yang sepakat—meski juga ada yang tidak sepakat—kalau dikatakan bahwa Soekarno adalah tokoh nasionalis sejati.
Baca Juga: Vaksin Booster Mulai Januari, Hanya Gratis untuk 83 Juta Orang, Ini Syaratnya
Ganda Febri Kurniawan, Warto, Leo Agung Sutimin (2019) menulis ketokohan Soekarno menyerupai Genghis Khan Hasar dari legenda kerajaan Mongolia (Nikolay, dkk., 2018: 75).
Ia merupakan representasi dari mesianisme dalam konteks Indonesia, atau dalam kebudayaan Jawa dikenal dengan istilah Ratu Adil.
Gerakan Ratu Adil menurut Kartodirdjo (1984: 19) adalah tindakan kepeloporan pembebasan masyarakat yang proses penunjukan pada pemimpinnya menggunakan pendekatan teologi agama.
Baca Juga: Sambut Dies Natalis ke 72, UGM Kembali Gelar Nitilaku 2021