Ketika akhirnya pesawat mendarat di Biak, segera saya ingat senior dan sahabat saya, Manuel Kaiseipo. Wartawan Kompas ini pernah menjadi Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia, masa Kabinet Persatuan Nasional di bawah Presiden Megawati. Dan, nama bandara Biak—Frans Kaiseipo (1921-1974)—adalah ayah Manuel Kaiseipo.
Baca Juga: INFO HAJI 2023 : Jemaah Haji Diimbau Waspadai Serangan Penyakit Jantung Saat Beribadah
Saat itu juga saya kirim foto Bandara Biak ke Pak Katua, begitu saya biasa menyapa Manuel Kaiseipo. "Wah, Pak Trias sampai juga ke kampung saya..." tulisnya di WA.
Biak adalah ibu kota Kabupaten Biak-Numfor, yang terletak di Teluk Cendrawasih, sebelah utara Pulau Papua. Dulu, di zaman Belanda diberi nama Schouten Eilanden, sesuai nama orang Eropa pertama berkebangsaan Belanda, yang mengunjungi daerah ini pada awal abad ke 17. Biak-Numfor adalah gabungan dua pulau kecil Biak dan Numfor.
Baca Juga: 5 Tempat Wisata di Raja Ampat. Nomor 3 Tidak Disarankan Bagi Mereka yang Memiliki Riwayat Jantung
Frans Kaiseipo lah—gubernur keempat Papua dan pahlawan nasional—yang pertama kali memerkenalkan nama "Irian" untuk menggantikan Nederlands Nieuw Guinea atau Papua. Irian adalah bahasa asli Biak yang berarti "cahaya yang mengusir kegelapan."
Papua—diambil dari bahasa Tidore, "papo ua" yang berarti tempat yang jauh—laksana "Putra Sang Fajar" (sebutan untuk Bung Karno). Sebab, Papua adalah wilayah di negeri ini yang pertama setiap hari melihat matahari. Dari sanalah matahari terbit.
Baca Juga: INFO HAJI 2023 : Indonesia Dapat Tambahan Fasilitas Mobil Golf Bantu Mobilitas Jemaah di Mina
Semestinya, seperti harapan Frans Kaiseipo sesuai arti kata "Irian", kegelapan itu diusir dari sana tempat di mana matahari terbit. Bukankah kegelapan hilang ketika cahaya datang? Tetapi, memang, harapan Frans Kaiseipo belum sepenuhnya terwujud.
Cahaya memang telah datang. Tapi, kegelapan belum hilang. Seperti lampu yang dikerudungi walaupun menyala namun cahayanya tak menembus kegelapan. Lampu baru berarti kalau terangnya mampu mengusir kegelapan.
Baca Juga: Desa Wisata Kembang Arum Sleman, Lokasi Ideal Buat Outbond
Baca Juga: Jadah Tempe Jajanan Khas Sleman, Kegemaran Sri Sultan!
Kegelapan tak bisa mengusir kegelapan, hanya cahaya-lah yang bisa melakukannya. Memang, sebelum bisa melihat cahaya, harus melewati kegelapan. Hanya persoalannya, sampai kapan kuasa kegelapan itu mencengkeram "surga kecil?"
Mereka yang optimistis melihat dan menciptakan cahaya dalam kegelapan. Sebab mereka tahu bahwa seluruh sejarah manusia sarat dengan perjuangan sengit melawan kekuatan kegelapan. Tapi, manusia selalu bisa keluar dari kegelapan.
Artikel Terkait
'PESAN SINGKAT DI HARI JUMAT' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
'BANDUNG DI WAKTU MALAM" Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
'KETEMU SAUDAGAR' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
'Visi-Aktualisasi Pancasila' Oleh: Yudi Latif, Pengurus Aliansi Kebangsaan
'PERAIRAN INDONESIA DARURAT SAMPAH' Oleh: Ramadhan Wibisono (News Producer INDOSIAR SCTV)
'ADA MATAHARI DI AGATS' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku