KETEMU SAUDAGAR
Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Selama lima hari, saya di Surabaya. Di kota Pahlawan itu—semoga gelar itu benar-benar sebagaimana artinya di tengah banyak orang sok pahlawan dan menjadi pahlawan kesiangan—saya jumpa lagi dengan sop kikil, rujak cingur, sate ranggi, sate madura, nasi campur, dan ada juga nasi goreng hitam. Semuanya enak.
Saya juga bertemu sejumlah saudagar yang begitu baik hati, ramah, bersahabat, bahkan nyemudulur. Sebut saja, Alim Markus, Halim Rusli, Soedomo Mergonoto, Harry Sunogo, Welly Muliawan, Welly Gunawan, Michele M Sunogo, Ricky Ongkowiharjo, Febrian Kahar Miam, dan masih banyak lagi. Saya juga ketemu Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.
Baca Juga: INFO HAJI 2023 : Kemenkes Jamin Pondokan Dan Makanan Haji Sehat
Namanya ketemu saudagar maka topik pembicaraan tak jauh-jauh dari dunia usaha,perjuangan, dan jatuh bangun dalam berusaha. Mereka pengusaha yang bersemangat dan berjiwa entrepreneurship, kewirausahaan—yang optimistis...terus berusaha mengembangkan usahanya, mencari peluang.
***
Salah satu cerita yang menarik dikisahkan Soedomo Mergonoto. Saudagar, seorang pengusaha kondang ini mengawali usahanya dengan jualan kopi keliling kampung, terutama di daerah Dolly, dengan sepeda.
Baca Juga: Olah Raga Bersama Teman Lebih Sehat
Dulu, Dolly atau yang lebih dikenal sebagai Gang Dolly, Surabaya merupakan kawasan prostitusi terbesar di Asia Tenggara. Resmi ditutup pada Juni 2014 oleh Bu Risma waktu menjabat sebagai walikota.
Kata Soedomo, saat itu is baru berusia 15 tahunan dan sering digodain para "penghuni" Gang Dolly. Sambil tertawa ngakak, Soedomo mengenang dan mengisahkan masa lalunya jualan kopi di Gang Dolly.
Baca Juga: Everton bertahan di Liga Premier Inggris 70 tahun berturut-turut setelah menang di laga terakhir
Jualan kopi dirintis ayahnya, Go Soe Loet yang bersama saudaranya Go Bie Tjong dan Goe Soe Bin berimigrasi dari daratan Tiongkok ke Hindia Belanda (Indonesia, sekarang ini). Tahun 1927, mereka mulai jualan kopi keliling dengan sepeda onthel.
Mereka keliling kampung dan Pelabuhan Tanjung Perak. Pelanggan utama adalah para pelaut dan masyarakat sekitar pelabuhan. Di pelabuhan inilah, nama kopi jualan mereka lahir. Karena yang saban hari dilihat para pelanggan adalah kapal api, maka kopi jualan mereka diberi nama kopi kapal api.
Artikel Terkait
'BUKAN TOPENG MONYET' oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
DONGENG 'MEMEDI SAWAH' oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
'PESAN SINGKAT DI HARI JUMAT' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
'TONGSENG SULTAN' Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
'BANDUNG DI WAKTU MALAM" Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku