TITIKTEMU.CO SEMARANG – Salah satu bangunan bersejarah yang cukup penting di Kota Semarang dan diketahui luas oleh publik adalah Lawang Sewu. Di jaman kolonial, gedung lawas yang kini menjadi obyek wisata itu adalah kantor cabang Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), perusahaan kereta api swasta yang kantor pusatnya di Den Haag, Belanda. Berikut adalah catatan tentang sejarah gedung Lawang Sewu yang dikutip dari laman PT. Kereta ApI Indonesia.
Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij atau NISM boleh dibilang merupakan pelopor perkeretaapian di Indonesia.
Di tanah Jawa, kala itu jalur awal kereta yang dibangun NISM ialah Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta). Selain itu dibangun pula jalur percabangan dari Kedungjati ke Ambarawa. Keseluruhan rampung tahun 1873.
Baca Juga: Bung Tomo, Pengobar Semangat Pertempuran 10 November di Surabaya
Baca Juga: Insiden Hotel Yamato: Pengibaran Bendera Merah Putih Biru yang Membuat Murka Arek-arek Surabaya
Dalam perkembangannya, NISM membangun jalur kereta api Jakarta-Bogor (1872), Jogja-Srandakan-Brosot (1915), Jogja-Magelang-Ambarawa (1905), dan Solo-Wonogiri-Baturetno (1923). Di lintas timur, NISM membangun jalur kereta api ke Surabaya (1903) dimulai dari Gundih melalui Cepu.
Namun pada tahun 1913, jalur Jakarta-Bogor dibeli oleh perusahaan kereta api Negara, Staatsspoorwegen (SS). Sampai tahun 1928, NISM mengoperasikan 875 km jalur kereta api.
Baca Juga: Jenderal Mallaby Tewas di Sekitar Jembatan Merah, Siapa Pembunuhnya?
Awalnya administrasi perkantoran NISM dilaksanakan di Stasiun Semarang. Seiring pertumbuhan perusahaan yang pesat ditandai aktivitas yang semakin sibuk, serta meningkatnya jumlah personil teknis dan administratif, kantor di Stasiun Semarang pun dianggap tidak lagi memadai.
Jalan keluar sementara, NISM menyewa beberapa bangunan milik perorangan. Tetapi karena dirasa tidak efisien dan lokasi kantor di Stasiun Semarang NISM berada di kawasan rawa-rawa sehingga tidak sehat. Akhirnya diputuskan membangun sebuah kantor administrasi baru.
Pilihan lokasi kantor baru jatuh ke lahan yang berada di pinggir Kota Semarang, tepatnya di dekat Wilhelmina Plein. Terletak strategis berada di simpul pertemuan jalur Bodjongweg (kini dikenal dengan Jalan Pemuda) dengan Kendalweg.
Baca Juga: Diponegoro, Pangeran yang Membuat Belanda Bangkrut
Proses perancangan Hoofdkantoor (kantor pusat) NISM dipercayakan kepada Prof. Jakob F. Klinkhamer di Delft dan B. J. Oundag, seorang arsitek di Amsterdam. Menariknya, desain bangunan dilakukan di Amsterdam, baru kemudian gambar dibawa ke Semarang.
Pelaksanaan pembangunan dimulai pada 27 Februari 1904 dan rampung pada 1 Juli 1907. Bangunan awal yang didirikan adalah rumah penjaga, ruang percetakan serta bangunan utama.
Artikel Terkait
Dendam Lama dan Tahta Singkat Amangkurat III
Blunder Patih Gajah Mada di Perang Bubat
Paku Buwono VI, Raja Surakarta di Simpang Jalan
Perang Paregreg, Majapahit Menuju Keruntuhan
Gayatri Rajapatni, Perempuan Agung di Balik Kejayaan Majapahit
7 Pahlawan Perempuan Sebelum Kemerdekaan, dari Laksamana Malahayati Sampai Rasuna Said
Tampil di Google Doodle Hari Pahlawan: Ismail Marzuki
Menengok Keris Kiai Kanjeng Nogo Siluman, Milik Pangeran Diponegoro di Musium Keris Solo.