TITIKTEMU.CO - Tanggal 19 September 1945 malam, Kota Surabaya gaduh. Orang-orang geram. Bendera merah putih biru berkibar di puncak hotel Yamato.
Padahal, bulan sebelumnya Indonesia baru saja memproklamirkan kemerdekaan. Massa yang marah bertambah banyak.
Mereka berdatangan dari segala arah, bekerumun di halaman hotel dan bangunan di sekitarnya.
Baca Juga: Gelorakan Semangatmu! Ini Dia, link Lengkap Twibbon Sumpah Pemuda 2021
Massa pantas marah.Presiden Soekarno sedang gencar-gencarnya menggalakkan pengibaran bendera Merah Putih.
Namun, orang-orang Belanda di Hotel Yamato malah mengibarkan bendera mereka.
Pengibaran bendera merah putih biru itulah yang memicu pertempuran yang kemudian dikenal sebagai peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.
Baca Juga: Sumpah Pemuda, Buruh dan Mahasiswa Gelar Aksi di Depan Istana
Kembali ke massa yang marah. Massa yang datang terus bertambah. Untuk mencegah konflik lebih besar, Residen Surabaya Soedirman masuk hotel bersama Hariyono dan Sidik.
Dia mencoba berunding dengan Ploegman, komandan tentara Belanda di hotel itu agar segera menurunkan bendera tiga warna.
Namun, perundingan di lobi hotel itu gagal. Ploegman menolak permintaan, dan menodongkan pistolnya ke Residen. Sidik menyergap Ploegman.
Baca Juga: Dear Gaes, Ini 10 Link untuk Twibbon Hari Kesaktian Pancasila
Sang Residen berhasil lolos keluar hotel dibantu Hariyono. Massa yang melihat Residen Surabaya berlari keluar hotel langsung tahu perundingan telah gagal.
Beberapa dari kemudian naik ke atap, termasuk Hariyono yang sebelumnya bersama Residen, dan Kusno Wibowo untuk menurunkan bendera.
Artikel Terkait
Tragedi G30S/PKI, Kisah Penculikan dan Pembunuhan 7 Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya
Jasad Para Jenderal itu Ditemukan di Sumur Tua di Lubang Buaya
Isu TNI Disusupi PKI, BEM PTAI : Pernyataan Ngawur dan Tidak Jelas.
Eksekusi DN Aidit dan Senyum Soeharto
Di Karanganyar, Pangdam IV/Diponegoro dan Kapolda Jateng Ziarah Ke Makam Soeharto