Pembangunan menggunakan bahan baku bermutu prima yang banyak dipesan khusus dari Eropa. Selain itu digunakan beberapa bahan baku local. Setelah bangunan utama dipergunakan hampir satu dekade, bangunan kantor ini pun dirasa tidak memadai lagi untuk menampung aktifitas kantor yang semakin sibuk.
Baca Juga: Kisah Cinta Soekarno, dari Oetari hingga Ratna Sari Dewi
Maka diputuskan untuk diperluas dengan membangun gedung baru yang sekilas tampak mirip dengan bangunan pendahulunya.
Pembangunan kantor tambahan terletak di sisi timur laut berukuran 23 x 77 m yang dilakukan kurun tahun 1916-1918.
Berbeda dengan bangunan utama yang berbentuk L, bangunan tambahan ini dibangun memanjang. Selain itu digunakan bahan baku lokal yang lebih murah.
Kendati demikian, bangunan ini sudah menggunakan konstruksi beton bertulang, salah satu teknologi mutakhir pada saat itu.
Baca Juga: Ini Dia, 7 Pahlawan Nasional Paling Tampan Pada Masanya
Kini, baik bangunan utama maupun tambahan tersebut dikenal dengan Lawang Sewu. Penamaan tersebut mengacu pada banyaknya jumlah pintu yang sangat banyak, lawang (pintu) sewu (seribu). ***
Sumber:
Korte Geschiedenis der Nederlandsch Indische Spoor en Tramwegen
Het Administratiegebouw der Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij te Semarang
Artikel Terkait
Dendam Lama dan Tahta Singkat Amangkurat III
Blunder Patih Gajah Mada di Perang Bubat
Paku Buwono VI, Raja Surakarta di Simpang Jalan
Perang Paregreg, Majapahit Menuju Keruntuhan
Gayatri Rajapatni, Perempuan Agung di Balik Kejayaan Majapahit
7 Pahlawan Perempuan Sebelum Kemerdekaan, dari Laksamana Malahayati Sampai Rasuna Said
Tampil di Google Doodle Hari Pahlawan: Ismail Marzuki
Menengok Keris Kiai Kanjeng Nogo Siluman, Milik Pangeran Diponegoro di Musium Keris Solo.