Blunder Patih Gajah Mada di Perang Bubat

photo author
Ganug Nugroho Adi, TitikTemu.co
- Kamis, 19 Agustus 2021 | 16:08 WIB
Ilustrasi Perang Bubat (Wikipedia)
Ilustrasi Perang Bubat (Wikipedia)

TITIKTEMU.CO

Perang Bubat menggagalkan pernikahan putri Kerajaan Sunda-Galuh Dyah Pitaloka Citaresmi dengan Prabu Bhre Hayam Wuruk. Seluruh petinggi Kerajaan Sunda tewas, termasuk Prabu Linggabuana. Sang Putri memilih bunuh diri.

Sejak itu hubungan Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada merengang. Beberapa tahun setelahnya Gajah Mada mundur sebagai patih, meilih hidup sebagai pertapa.

Perang Bubat menjadi titik balik kejayaan Patih Gajah Mada. Ia hampir menyempurnakan Sumpah Palapa-nya, namun gagal karena ambisinya sendiri. Pararaton mencatat tragedi Bubat  terjadi pada 1279 Saka atau 1357.

Baca Juga: Ken Dedes, Perempuan yang Menurunkan Raja-raja di Jawa?

Kakawin Nagarakertagama menulis Kerajaan Majapahit hampir menguasai seluruh wilayah Nusantara. Hanya satu kerajaan yang belum tunduk, yaitu Kerajaan Sunda Sunda-Galuh atau dikenal dengan nama Kerajaan Pasundan.

Mahapatih Gajah Mada tidak memiliki alasan apa pun untuk menaklukkannya. Selama ini Majapait dan Pasundan memiliki hubungan cukup baik. Kerajaan Sunda juga dikenal sebagai wilayah yang stabil dan aman, nyaris tanpa pergolakan.

Saat kerajaan-kerajaan di wilayah timur diwarnai peperangan dan perebutan kekuasan mulai dari Airlangga, Janggala-Panjalu, Kediri, Singasari, hingga Majapahit, Kerajaan Sunda tetap tanpa gejolak.

Baca Juga: Dendam Lama dan Tahta Singkat Amangkurat III

Selain itu, ada tafsiran mirip gelaran dengan Raja Airlangga bahwa  Jayabhuapti  "Haji ri Sunda" (Raja Sunda) masih memiliki hubungan darah dengan raja-raja di wilayah timur –dalam prasasti raja Sri Jayabhupati pada abad 11.

Sunda tidak pernah tunduk pada Majapahit. Pada sisi lain, Gajah Mada, patih legendaris Majapahit itu, masih menyimpan ambisi dengan Sumpah Palapa-nya: menyatukan wilayah Nusantara.

Hayam Wuruk memang mendukung Sumpah Palapa. Ia tak melarang Gajah Mada menguasai wilayah-wilayah di Nusantara. Namun, tidak untuk Kerajaan Sunda. Bagi Hayam Wuruk kerajaan di barat itu merupakan leluhurnya.

Baca Juga: Amangkurat I, Pembantaian demi Pembantaian di Mataram

Kesempatan penyatuan wilayah itu datang saat Raja Majapahit, Hayam Wuruk, berniat meminang Putri Sunda, Dyah Pitaloka Citaresmi. Bagi Sang Raja, rencana pernikahan itu benar-benar murni masalah asmara, bukan politik. Melalui perkawinan, Hayam Wuruk berharap hubungan Majapahit dan Kerajaan Pasundan semakin erat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ganug Nugroho Adi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Arti Mimpi Ular Kuning dan Putih Apa?

Selasa, 26 Agustus 2025 | 11:35 WIB
X