TITIKTEMU
Susuhunan Amangkurat III penguasa Keraton Kartasura (1703-1705) murka. Beredar desas-desus bahwa permaisuri yang dikasihinya, Kanjeng Ratu Lembah, menjalin hubungan asmara dengan Raden Sukro, anak Patih Sindurejo.
Amangkurat III alias Angkurat Mas atau juga disebut Sunan Mas, dikenal berperangai buruk, kejam, dan sewenang-wenang. Tanpa mempertimbangkangkan kebenaran mengenai kabar perselingkuhan, penguasa Keraton Kartasura itu langsung menghabisi Raden Sukro. Selanjutnya giliran permaisuri.
Babad Tanah Jawi menggambarkan eksekusi terhadap Sang Ratu berlangsung penuh haru (W.L. Oltholf, 2011: 548-554). Sang Raja menggelandang Ratu Lembah kepada ayahnya, Pangeran Puger, sekaligus memerintahkan untuk membunuhnya. Selain sebagai mertua, Pangeran Puger adalah pamannya sendiri -adik Amangkurat II.
Baca Juga: Amangkurat I, Pembantaian demi Pembantaian di Mataram
Sarsono dan Suyatno dalam penelitian Suatu Pengamatan Tradisi Lisan dalam Kebudayaan Jawa: Studi Kasus Masyarakat Laweyan di Surakarta (1985), menulis Raden Ayu Lembah dihukum gantung. Sang Permaisuri kemudian dimakamkan di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Laweyan. (hlm. 47).
Versi lain menyebutkan jasad Raden Ayu Lembah dibenamkan di pasareyan Banyusumurup, Yogyakarta. Babad Alit tulisan R Prawira Winarsa dan Raden Ngabei Jayeng Pranata (1921: 34) menyebut tempat itu dikenal sebagai makam bagi para “pendosa”.
Masa pemerintahan Amangkurat III yang singkat (1703-1705) penuh dengan tragedi. Sejak awal, pengangkatan Raden Sutikna, nama kecil Amangkurat III, sudah memunculkan polemik. Sesaat setelah ayahnya, Amangkurat II mangkat, Raden Sutikna mengklaim sebagai penerus tahta. Ia adalah satu-satunya putra dari mendiang Amangkurat III.
Namun, Sang Raja mendapat banyak penolak dari kalangan keraton. Para kerabat dan petinggi keraton menganggap Pangeran Puger, adik Amangkurat II, lebih layak sebagai penerus tahta. Raden Sutikna lahir dengan kecacatan fisik di bagin tumit.
Selain itu, banyak orang meyakini bahwa wahyu sebagai raja jatuh kepada Pangeran Puger (Ngono ya Ngono ning Aja Ngono: Tafsir Deskriptif Filsafat & Kearifan Jawa, 2012, halaman 36, M Hariwijaya).
Perseteruan Lama
Menengok kebelakang. Api dalam sekam di Keraton Kartasura sebenarnya sudah terjadi jauh sebelum Raden Sutikna lahir. Raden Mas Darajat, nama kecil Pangeran Puger, dan Amangkurat II yang ketika itu masih bernama Raden Mas Rahmat, pernah sama-sama dinobatkan sebagai pewaris tahta oleh ayah mereka, Amangkurat I atau Amangkurat Agung.
Pertama, Mas Rahmat ditetapkan sebagai putra mahkota. Namun, status itu dicabut karena Mas Rahmat melakukan pemberontakan terhadap ayahnya sendiri. Ia bahkan pernah bersekutu dengan Trunojoyo, musuh besar Amangkurat Agung. Status Adipati Anom atau pewaris tahta pun dialihkan kepada adiknya, Raden Mas Darajat alias Pangeran Puger.