TITIKTEMU.CO – Tahun 1785 ketika Diponegoro lahir, Raja Kasultanan Yogyakarta Hamengku Buwono I meramalkan bayi itu akan membuat repot Belanda.
“Bayi ini, pada masanya nanti akan membuat kerusakan hebat, lebih hebat dari aku. Rawatlah anak ini,” katanya kepada permaisuri Raden Ayu Mangkorowati.
Lebih dai 40 tahun kemudian, Diponegoro alias Raden Mas Ontowiryo, memimpin perang besar di wilayah Jawa Tengah hingga sebagian Jawa Timur.
Baca Juga: Paku Buwono VI, Raja Surakarta di Simpang Jalan
Itulah perang hebat yang terus berkobar sepanjang lima tahun. Kelak, perang ini dikenal sebagai Perang Jawa (1825-1830).
Perang panjang ini membuat Pemerintah Belanda bangkrut. Belanda kehilangan 8.000 prajurit yang dibawanya dari Eropa.
Sebanyak 7000 prajurit yang direkrut dari wilayah Nusantara mati. Kerugian materi Belanda 20 juta gulden lebih.
Baca Juga: Perjanjian Salatiga, Akhir Perlawanan Pangeran Sambernyawa
Perang Diponegoro ini mendapat dukungan dari banyak kalangan. Mulai dari bangsawan, ulama, santri, petani, pedagang, sampai rakyat jelata.
Beberapa tokoh muncul ikut mengobarkan perang, seperti Pangeran Mangkubumi dan Ali Basyah Abdul Mustofa Prawirodirjo alias Sentot Prawirodirjo.
Sentot, yang saat itu baru berumur belasan tahun, memimpin pasukan berkuda. Ia sekaligus juga pemimpin bagi semua pemimpin kesatuan perang.
Baca Juga: Amangkurat I, Pembantaian demi Pembantaian di Mataram
Beberapa tokoh lainnya adalah Tumenggung Danukusumo, Kiai Mojo, Kiai Kuarun, serta dua putera Diponegoro sendiri, Pangeran Diponegoro Anom dan Ki Sodewo.
Ketika Belanda menguasai Selarong, atas usulan Kiai Mojo, Diponegoro memindahkan markas ke Dusun Sambiroto, Pengasih, Wates.
Artikel Terkait
Blunder Patih Gajah Mada di Perang Bubat
Perang Paregreg, Majapahit Menuju Keruntuhan
Keris Mpu Gandring, Ken Arok, dan Pertumpahan Darah di Kerajaan Singasari
Gayatri Rajapatni, Perempuan Agung di Balik Kejayaan Majapahit