"DI KAIRO KAMI BERTEMU" Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Indria Purnama Hadi, TitikTemu.co
- Minggu, 7 Agustus 2022 | 14:22 WIB
Kota Kairo (Unsplash)
Kota Kairo (Unsplash)

***

Toleransi
Toleransi (Freepik)

Barangkali, situasi zaman ketika Rumi hidup memberikan sumbangan besar pada sikapnya yang penuh cinta dan toleran. Selain, tentu, didikan dalam keluarganya.

Baca Juga: Film Pengabdi Setan 2 Tayang 4 Agustus 2022. Tiket Sudah Dijual Mulai Sekarang, Gini Cara Belinya

Beberapa catatan mengisahkan, era di mana Rumi hidup (1207-1273) adalah masa yang sulit. Di satu sisi, ada kerusakan yang ditimbulkan karena Perang Salib (1095 – 1291). Dan, di sisi lain, ada invasi Mongolia dari Asia Tengah ke Asia Barat, hingga Anatolia atau Asia Kecil (kini bagian dari Turki) yang menghancurkan wilayah Muslim menjadi bagian-bagian yang berbeda, dan mengobarkan perselisihan dan hasutan di seluruh dunia Muslim.

Di masa sulit ini, Jalaluddin Rumi membuka tangan dan hatinya lebar-lebar dengan pemahaman yang luar biasa tentang toleransi dan kemurahan hati untuk merangkul semua orang. Dengan cara itu Rumi menawarkan obat untuk lingkungan kekacauan, perselisihan, dan fragmentasi yang terjadi di lingkungan dan kawasan dia hidup dan tinggal.

Maka tidak mengherankan kalau UNESCO mendeklarasikan tahun 2007 sebagai “Tahun Rumi”. UNESCO mengakui kontribusi Rumi sebagai penganjur toleransi dan rasa hormat antaragama. Rumi digambarkan sebagai “salah satu humanis, filsuf, dan penyair besar yang menjadi bagian dari kemanusiaan secara keseluruhan.”

Baca Juga: Patahkan Stigma Radikalisme, Film 'Pesantren' Suguhkan Nilai-Nilai Toleransi dan Kesetaraan. Tayang 4 Agustus

***
Kata Rumi, cinta membuat rasa hormat di antara orang-orang yang berbeda-beda segala macam latar-belakangnya. Sikap samacam ini menghilangkan musuh; membangun persaudaraan.

Maka, kata Rumi, kita harus mencintai manusia dan makhluk ciptaan lainnya dan kita harus berusaha menghilangkan kebencian.

Rumi percaya bahwa cinta adalah alasan penciptaan alam semesta ini. Semua kita ini mahkluk di dunia. Firman Tuhan, “Jika tidak, jika tidak, saya tidak akan menciptakan langit itu” menunjukkan bahwa satu-satunya tujuan menciptakan alam semesta adalah cinta Tuhan kepada seluruh umat manusia.

Baca Juga: Wakil Ketua LPSK: Brigadir J Lebih Jago Menembak dari Bharada E

Ustadz, barangkali itu warisan Rumi yang sangat berharga bagi kehidupan kita bersama……….Terima kasih atas terjemahannya….***

 

Sumber: https://triaskredensialnews.com/kredensial/1-di-kairo-kami-bertemu/

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: triaskredensialnews.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X