JIKA TIDAK ADA MALAM Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Jumat, 15 April 2022 | 16:53 WIB
Ilustrasi. Tangan yang sedang berdoa
Ilustrasi. Tangan yang sedang berdoa

Sambil terbaring, merasakan rasa pusing kepala dan perihnya perut, saya bertanya-tanya dalam hati: apakah sejarah selalu berulang; termasuk sejarah perjalanan hidup saya ini? Atau ini hanya kebetulan saja?

Ilustrasi. Malam penuh bintang
Ilustrasi. Malam penuh bintang (Istimewa)


Dua
Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Saya lebih senang mengikuti pendapat orang-orang waskita, witjaksana, mumpuni, orang-orang yang sudah menep, orang-orang hebat bahwa apa yang terjadi dalam hidup ini adalah providentia Dei, penyelenggaraan Ilahi.

Baca Juga: Akademi Metrologi dan Instrumentasi (Akmet): Kuliah Gratis SPP, Pendaftaran , Uang Pangkal dan Ada Beasiswa

Terdengar sangat sok, mungkin. Barangkali benar. Walaupun kata Sang Pengkhotbah, nihil sub sole novum, tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Yang baru adalah bagaimana cara kita melihat dan menyikapinya.

Karena itu, sebagai wartawan, kami dulu oleh Pak Jakob Oetama diajari untuk selalu memegang semangat gumunan agar tidak tersandera oleh prinsip “nihil sub sole novum “. Terus diam saja. Kehilangan daya kreativitas.

Maka bertanya adalah “hukum besi” pertama yang harus ditaati. Misalnya, mengapa menjelang lebaran harga-harga kebutuhan pokok selalu naik dari waktu ke waktu? Mungkin bedanya sekarang, kenaikan harga langsung dijadikan komoditas politik. Dulu juga begitu, tetapi sekarang semakin menjadi-jadi. Semua-semua dipolitisasi, dipakai baju politik.

Baca Juga: SEKOLAH KEDINASAN : Sekolah Kedinasan Kemenhub Terima 3.350 Catar, Simak Syarat dan Cara Pendaftarannya

Mengapa beberapa waktu lalu soal penundaan pelaksanaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden terus diramaikan. Padahal Presiden Jokowi sudah jelas-jelas menyatakan menaati ketentuan konstitusi. Dan, terakhir melarang para menteri membicarakan hal itu lagi. Apa benar ada bohir-nya?

Mengapa masih banyak pejabat korup? Mengapa kehidupan bertoleransi rapuh? Mengapa orang cenderung show of force dalam segala macam bentuk dan manifestasinya tidak hanya di pusat tetapi justru di daerah-daerah? Mengapa masih saja banyak tersangka teroris yang ditangkap Densus 88? Mengapa banyak orang beragama tetapi tak beriman?

Mengapa banyak orang bicara tentang apa pun, tentang banyak hal, tanpa sikap tahu diri, dan tanpa pengetahuan. Hal semacam itu oleh Alberto Montano disebut sebagai todologi. Mungkin kalau di sini lebih tepat disebut trondolo.

Baca Juga: MUDIK: Ada Mudik Gratis ke Jateng untuk Buruh dan Pedagang Kecil. Ini Link Pendaftarannya.

Sebenarnya, yang dicari banyak orang bukan sekadar fakta dan masalah yang tampak. Tetapi latar belakang, riwayat dan prosesnya, hubungan kausal maupun hubungan interaktif.

Lewat media, orang tidak sekadar ingin tahu, bukan berwacana saja, tetapi ingin memahami arti dan makna peristiwa tersebut. Tetapi, sayangnya, kebanyakan media sekarang sudah tak mampu menyuguhkan makna itu. Mereka sibuk urusan lain dengan beritanya, entah untuk memenuhi kepentingan diri atau pihak lain.

Tetapi kata Pak Jakob, lagi pula, jika dipikir lebih jauh, apakah artinya makna, tahu duduknya perkara, jika dalam persoalan-persoalan yang mendesak dan strategis, pencarian dan pendekatan solusi tidak ditawarkan.

Baca Juga: SBMPTN : Cama Baru UNS Solo Harus Tahu. Ini Prediksi Nilai UTBK yang Bisa Lolos SBMPTN UNS 2022

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: triaskun.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X