JIKA TIDAK ADA MALAM Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Jumat, 15 April 2022 | 16:53 WIB
Ilustrasi. Tangan yang sedang berdoa
Ilustrasi. Tangan yang sedang berdoa

JIKA TIDAK ADA MALAM
Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku


Satu
Tigapuluh dua tahun lalu. Suatu malam, dua sahabat—Victorawan Sophiaan dan Heru Baskoro (alm)—menemukan saya dalam kondisi badan demam tinggi terbaring, di kamar sebuah rumah yang dikontrak kantor di kawasan Palmerah.

Kedua sahabat itulah yang membawa saya ke rumah sakit. Saya langsung dibawa ke UGD RS St Carolus.

Itulah kali pertama, saya dirawat di rumah sakit: opname. Tiga hari, tiga malam terbaring di tempat tidur di sebuah ruangan kelas dua di RS St Carolus, Jakarta. Jarum yang dihubungkan ke botol infus dengan selang plastik, menancap di punggung tangan kiri. Makan tiga kali sehari. Sehat. Bergizi.

Baca Juga: Forum Anak Minta Pemerintah Perkuat Pendidikan Karakter

Ada yang tak terlupakan hingga kini. Baru kali ini pula, saya mendapat kiriman karangan bunga. Tidak hanya satu, dua bahkan.

Sebuah rangkaian bunga yang begitu indah dari pemimpin tertinggi tempat saya bekerja: Pak Jakob Oetama, ketika itu. Dan, satunya lagi yang juga indah dari atasan saya langsung Mas Raymond Toruan.

Pada hari ketiga, sebelum keluar dari rumah sakit, saya bertanya pada dokter. Dok, saya sakit apa?

Baca Juga: Liga Europa: Barcelona 2-3 Eintracht Frankfurt, Barca Gagal ke Semifinal, Tersingkir di Kandang Sendiri

Jawaban dokter sungguh mengagetkan, sekaligus membuat saya sangat malu saat itu. “Kurang gizi,” kata dokter.

Tigapuluh dua tahun kemudian, April 2022. Suatu siang saya dibawa ke RS Puri Cinere oleh istri. Karena, kondisi badan kurang bagus.

Ketika terbaring di ruang UGD, dengan jarum infus menancap di punggung tangan kiri, saya teringat kenangan 32 tahun silam, ketika dibawa dua teman masuk UGD St Carolus. Lalu diinfus. Dan, akhirnya opname.

Baca Juga: Ini Dia 10 Penyiar Lengendaris TVRI, Anda Mengidolakan Siapa?

Tiga hari pula, saya terbaring di sebuah kamar di RSPC, ditemani istri; ditangani dokter yang sangat baik, ramah, bicara apa adanya khas Malang–daerah asalnya–banyak bicara, suka diskusi, dan menjelaskan soal penyakit secara sederhana dan jelas. CT Scan kepala, sudah saya jalani, Rontgen dada atau rontgen thorax juga sudah. Kata dokter, hasilnya baik semua.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: triaskun.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X