AKU DULU PINGIN JADI DALANG… Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Kamis, 17 Februari 2022 | 18:28 WIB
Ilustrasi Dalang Wayang Kulit (flickr)
Ilustrasi Dalang Wayang Kulit (flickr)

Selain itu juga berarti, penasihat, pendorong, penyebab, penggerak, pencetus, penganjur, pendekar, gembong, pelopor, dan dalang. Sementara arti kata intellectualis (adiectivum, kata sifat) adalah mengakalbudi, mengintelek.

Dalam rumusan K Bertens auctor intellectualis berarti pencetus ide, orang yang untuk pertama kali mengemukakan suatu pikiran atau rencana, otak atau brain di balik suatu peristiwa (Kompas, 1 Mei 2000).

Maka itu, dalam pertunjukan wayang purwo atau wayang kulit, dalang adalah tokoh sentral. Ia pengarang cerita. Ia pemain. Artis. Pemilik kuasa. Meski ada yang mengatakan, yang paling penting adalah blencong.

Baca Juga: POSTINGAN MAS MAR… Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior/Penulis Buku

Bléncong adalah lampu minyak kelapa yang digunakan dalam pertunjukan wayang purwa. Bléncong adalah sumber cahaya; cahaya yang menghidupkan wayang; cahaya sumber kehidupan.

Dalang—entah itu wayang kulit atau wayang beber, wayang wahyu, wayang klithik, wayang golek, atau wayang gedhog, dan juga dalang jemblung—adalah kaum intelektual tradisional. Sebagai seniman, dalang adalah manusia literer yang sekaligus filsuf. Sebagai intelektual tradisional, para dalang wayang kulit juga termasuk bagian dari kelompok sosial yang berkuasa, karena mereka memiliki (menguasai) massa penggemar.

Dialah—dalang—penentu apakah tokoh-tokoh wayang yang dimainkan bertabiat baik atau jahat seperti Sengkuni dan Durno. Dialah otak di balik suatu peristiwa. Dialah yang bikin cerita. Dialah arsitek sebuah kejadian. Dialah yang menentukan siapa yang menang dalam perang tanding, misalnya, antara Sentiaki melawan Dursasana atau antara Gatotkaca melawan Adipati Karna, atau kapan gara-gara dimainkan dan sebagainya.

Baca Juga: Yahya Muhaimin, Tokoh Pemikir Militer Indonesia. Sebuah catatan, oleh: Ibrahim Ambong

Wayang Orang
Wayang Orang (id.wikipedia)

Seperti kata K Bertens, dalang—dalam arti yang luas—berarti pencetus ide, orang yang untuk pertama kali mengemukakan suatu pikiran atau rencana, otak atau brain di balik suatu peristiwa. Maka, orang sekarang sering mengatakan, “Siapa dalang pemberontakan G30S/PKI?”, “Siapa dalang demonstrasi anarkis itu?”, “Siapa dalang pengeboman itu?”, “Siapa yang membenturkan rakyat dan aparat?”, “Siapa yang mengadu domba sesama rakyat?”, “Siapa pencetus ide pembakaran wayang?” “Siapa yang menghasut rakyat di desa itu?”

Dalang adalah otak dari sebuah peristiwa, sebuah “hajatan”. Untuk menjadi dalang seperti yang sekarang banyak dan muncul di mana-mana dalam berbagai tampilan, tidak perlu sekolah di Habirandha. Sebab, Habirandha adalah tempat para dalang yang akan mementaskan tontonan, memberikan tuntunan untuk memahami tatanan hidup bersama.

Baca Juga: POLITIK WADAS OLeh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Sekarang “sekolah” dalang ada di mana-mana dalam berbagai rupa. Bisa itu perguruan tinggi negeri, swasta, maupun agama. Bisa pula organisasi kemasyarakatan, organisasi politik, bahkan organisasi keagamaan.

Walaupun, tujuan mereka adalah menciptakan dalang, seorang auctor intellectualis dalam arti yang positif, tetapi lahir juga dari mereka para dalang yang menjadi otak keributan, kegaduhan, konflik, ketidak-rukunan, kebisingan, kebohongan, pengadu domba, pemecah belah, penghasut rakyat, terorisme, fanatisme, fundamentalisme, dan ujungnya penghancur negara.

Orang Jawa—atau para pandemen wayang—percaya bahwa tidak semua jenis lakon wayang dapat dipentaskan begitu saja. Misalnya, lakon “Ontran-otran Desa Wadas” tentu beda dengan “Karna Tundung di Gedung DPR” atau “Tumbal Lenyapnya Angkaramurka”, atau “Begawan Abiyasa Gadungan”, atau “Sengkuni Mati Angin”, dan masih banyak lagi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: Trias Kuncahyono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X