RITUAL BULAN DESEMBER Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Senin, 20 Desember 2021 | 21:32 WIB
Ilustrasi (pixabay/Bru-no)
Ilustrasi (pixabay/Bru-no)
 

I
Entah di mana “korsleting”-nya bangsa ini. Sebab, hingga kini masih saja ada yang memungkiri bahwa bangsa ini majemuk. Beragam.

Padahal, kemajemukan itu ada sejak semula. Sejak lahir, sudah majemuk. Bahkan, jauh sebelum menjadi sebuah negara-bangsa, kemajemukan itu sudah ada.

Dalam pidatonya pada tanggal 17 Agustus 1954, Bung Karno mengingatkan pentingnya memahami kemajemukan budaya yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Baca Juga: Omicron Menyebar, Indonesia Tambah Tiga Negara dalam Daftar Larangan Masuk

Kata Bung Karno, “Ingat, kita ini bukan dari satu adat istiadat. Ingat, kita ini bukan dari satu agama. Bhinneka Tunggal Ika, berbeda tapi satu, demikianlah tertulis di lambang negara kita, dan tekanan kataku sekarang ini kuletakkan kepada kata bhinna, yaitu berbeda-beda. Ingat, kita ini bhinna, berbeda-beda…” (Kompas, 4 Maret 2001).

Barangkali, Indonesia adalah negara paling majemuk di dunia. Coba, sebut negara mana yang kemajemukannya melebihi Indonesia, baik dari suku, agama, ras, bahasa, budaya, dan lain sebagainya.

Maka, tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa persatuan dan kesatuan bangsa ini–atau bahkan keberadaan bangsa ini–akan terjamin bila semua pihak mengakui, menerima dengan tulus ikhlas keberagaman itu.

Baca Juga: Jadwal Semifinal Piala AFF 2020 Lengkap: Mengacu Sejarah, Indonesia Diunggulkan Melawan Singapura

Artinya, semua pihak saling mengakui dan tentu saja saling menerima keunikan, kekhasan dan keberbedaan yang ada.

Bila tidak bisa lagi menerima perbedaan-perbedaan yang ada sebagai sesama anak bangsa, maka akan terjadi seperti yang menimpa Yugoslavia.

Negeri itu terpecah-pecah menjadi Slovenia, Kroasia, Bosnia dan Herzegovina, Montenegro, Republik Makedonia dan Kosovo karena konflik dan kekerasan etnik.

Baca Juga: Asam Lambung Naik? Ini Obat Herbal Mujarab dari dr Zaidul Akbar

Adalah sangat baik bila tragedi Yugoslavia, menjadi sebuah perenungan siapa saja yang mencintai negeri ini. Yugoslavia sekadar sebagai sebuah contoh.

Karena itu, kalau menginginkan negeri ini, Indonesia, tetap utuh, bersatu, kita harus selalu menolak kepicikan pikiran dan hati, juga sikap eksklusivisme yang membabi-buta dengan mau menang sendiri, dengan melarang pihak yang berbeda melakukan ibadah, dengan menafikan kelompok atau komunitas lain, dengan mengharamkan orang atau pihak lain, dengan melarang sekadar memberikan salam, ucapan selamat sebagai ungkapan persaudaraan sebangsa setanah air.

Baca Juga: Marcus Rashford Diminati Barcelona dan Paris Saint-Germain, Pilih Mana ya Kira-kira

II
Mengingat semua itu, maka saya sangat bahagia, berkenalan dan kemudian menjalin persahabatan dengan sejumlah tokoh muda (meskipun sudah ada yang usianya hampir 60 tahun), yang berpikiran dan berhati terbuka. Mereka itu, misalnya Yudi Latif, Sukardi Rinakit, Gus Iim, Zuhairi Misrawi, Fadjroel Rachman, Zuly Qodir, Hasibullah Satrawi, Najih Arromadloni, Fajar Riza Ul Haq, Donny Gahral Adian, Sukidi, Agus Sudibyo, dan masih banyak lagi. 

Persahabatan dengan mereka adalah persahabatan yang dilambari semangat persaudaraan yang tulus, yang bermartabat; yang tidak dikotori oleh nafsu-nafsu kepentingan diri.

Baca Juga: Bukan Sekadar Minuman Penghangat, Ini 7 Manfaat Wedang Uwuh untuk Kesehatan

Persahabatan kami bukan persahabatan politik, melainkan persahabatan kemanusiaan yang dilandasi sikap saling percaya.

Saling percaya ini menjadi dasar adanya sikap mau menerima yang berbeda dan hidup bersama dalam damai dalam suasana saling menghormati. Itulah yang oleh Franz Magnis-Suseno (2021) disebut sebagai toleransi.

Kata Franz Magnis-Suseno, kemampuan untuk bertoleransi merupakan suatu ciri watak manusia yang berbudi luhur yang paling sentral.

Baca Juga: Jangan Keliru, Ini Beda antara ASN, PNS, dan PPPK

Bersikap toleransi tak lain menunjukkan kemampuan untuk menerima suatu fakta paling dasar kemanusiaan bahwa kita hidup bersama orang lain. Jadi, kita tidak hanya hidup demi kita sendiri…

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: Trias Kuncahyono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X