Bertoleransi berarti memahami bahwa mereka itu, mereka yang lain, merupakan nilai pada diri mereka sendiri, berhak, serta perlu, diakui, dihormati, dan tentu sebisa-bisanya dicintai.
Toleransi berarti, kita tidak lagi merasa diganggu oleh keberlainan mereka; kita menjadi mampu untuk menerima mereka sebagai mereka, bukan hanya sebagai sarana keamanan dan keuntungan kita sendiri.
Baca Juga: Siap-Siap…..Ini Jadwal Pengumuman Seleksi CPNS 2021, Jangan Kelewatan Yah…
Karena itu, kata Franz Magnis-Suseno intoleransi merupakan salah satu gangguan paling serius bagi perdamaian dalam suatu masyarakat.
III
Setiap bulan Desember, kemampuan masyarakat indonesia untuk bertoleransi, seperti selalu diuji. Sebab, menjelang akhir Desember selalu saja ada yang meributkan soal boleh boleh-tidaknya mengucapkan “Selamat Natal” oleh umat yang tidak merayakan.
“Isu musiman” ini–yang tidak jarang langsung disamber dan dikemas menjadi komoditas politik–menjadi ritual tahunan menjelang tutup tahun, yang selalu mengundang pendapat pro dan kontra.
Baca Juga: Wajah Kering dan Flek Hitam? Solusinya Masker Lidah Buaya! Begini Caranya
Bertahun-tahun! Ya, bertahun-tahun begitu.
Tiga tahun lalu (NU Online, 2018) cendikiawan Muslim Prof Dr Muhammad Quraish Shihab mengatakan, persoalan boleh atau tidaknya seorang Muslim mengucapkan selamat hari raya agama lain seperti Natal, hanya terjadi di Indonesia, Malaysia da sekitarnya.
Sementara persoalan seperti itu tidak ada di negara-negara di Timur Tengah.
Di tengah “ujian terhadap toleransi itu,” pada tanggal 15 Desember 2021, pukul 09.25 lewat WA, Guru Bangsa Buya Syafii Maarif mengirimkan pesan ucapan Selamat Natal. “Para penggembala, para sahabat Kristiani di mana pun mengabdi, saya ucapkan ‘Selamat Merayakan Hari Natal 2021’. Semoga pandemi ini cepat berlalu, sehingga perasaan aman dan damai dalam suasana Natal ini dapat berlangsung dengan tenang, dengan dimensi spiritual yang membahagiakan.”
Baca Juga: Kalahkan Malaysia 4-1, Indonesia Maju ke Semifinal sebagai Juara Grup B Piala AFF Suzuki 2020
Saya terharu ketika membaca WA Guru Bangsa Buya Syafii Maarif itu. Matur nuwun, Pak…
Benar yang disampaikan Franz Magnis-Suseno, bertoleransi merupakan satu ciri watak manusia yang berbudi luhur.
Maka masyarakat yang toleran adalah masyarakat yang berbudi luhur, masyarakat yang memiliki sarana-sarana kejiwaan untuk merealisasikan tingkat kemanusiaann yang tinggi.
Baca Juga: Obyek Wisata Girpasang Klaten: Ada Kopi Khas Merapi, Kereta Gantung & Kuliner Ayam Ingkung...
Tetapi, menjadi manusia yang berbudi luhur sesuai dengan martabat manusia adalah sebuah pilihan bagi setiap manusia yang berakal budi, yang memiliki kebebasan, dan berhati nurani.
Selamat Natal 2021 dan Selamat Tahun Baru 2022…para sahabat.***
Sumber: https://triaskun.id/2021/12/20/ritual-bulan-desember/
Artikel Terkait
POLITIK WHATSAPP Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan senior, Penulis Buku
KALA MARICA oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Tak Perlu ke Bioskop, Ini 7 Film Natal yang Layak Ditonton di Rumah
DUA TOKOH Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Makin Diperketat, Begini Aturan Terbaru Ibadah Natal 2021 dari Kemenag
7 Lagu Natal Paling Populer dari Masa ke Masa, Lengkap dengan Sejarah, Lirik dan Chord-nya