Apa yang dimaksud dengan istilah “bahaya laten?”. Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan: kata “laten” memiliki tiga arti yakni tersembunyi, terpendam, dan tidak kelihatan (tetapi mempunyai potensi untuk muncul). Maka “bahaya laten” berarti “bahaya tersembunyi yang terus-menerus mengancam, yang bisa muncul sewaktu-waktu.”
Benarkah PKI, komunisme itu bahaya laten? Itu pertanyaannya. Ada yang secara cepat mengatakan: Benar! Dan, terus-menerus meneriakkannya, terutama pada bulan September.
Baca Juga: Giatkan Perokonomian Pasca Pandemi, Warga Sragen Ciptakan Aplikasi Jual Beli Satwa Anti Kerumunan
Tak sedikit orang yang membuat hipotesa-hipotesa tentang ancaman PKI yang dicurigai masih ada meskipun tidak terlihat. Bahkan bahaya laten itu dianggap mulai muncul dan mempengaruhi generasi muda yang bahkan tidak mengerti dengan baik sejarah Indonesia.
Tetapi, Ketua Umum PB NU KH Said Aqid Siroj mengatakan, PKI bukan bahaya laten. Bahaya laten yang mengancam bangsa Indonesia sebenarnya adalah radikalisme dan teroris (Suaraislam.id).
Hal itu disampaikan Said Aqil dalam webinar yang digelar oleh ISNU dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dengan tajuk “Mencegah Radikalisme & Terorisme Untuk Melahirkan Kehaharmonisan Sosial”, Selasa (30/3/2021).
Baca Juga: Terkait Siswa Naik Kotak Styrofoam Menyeberangi Sungai, Sudah Biasa:Jangan Dibesar-besarkanlah
Radikalisme adalah tindakan yang merusak atau berdampak merusak kelompok masyarakat lainnya di tengah kehidupan bermasyarakat di Indonesia, misalnya perusakan rumah ibadah agama lain.
Sedangkan, intoleransi adalah sikap yang melarang atau tidak membolehkan, kelompok lain atau orang lain, mengekspresikan hak-haknya, misalnya dilarang melakukan kegiatan yang legal.
Menurut Ömer Taspınar (200), radikalisme lebih mencerminkan dimensi ancaman politik dan ideologis. Tidak peduli seberapa beragam penyebab, motivasi, dan ideologi di balik terorisme, semua upaya kekerasan terencana terhadap warga sipil memiliki ciri-ciri radikalisme kekerasan.
Baca Juga: Memasuki Musim Hujan, Ini Tiga Tanaman Herbal yang Ampuh Meningkatkan Kekebalan Tubuh
Sementara terorisme adalah tantangan keamanan yang mematikan, radikalisme terutama merupakan ancaman politik. Semua teroris, menurut definisi, adalah radikal. Namun semua yang radikal tidak berakhir sebagai teroris.
Faktanya, hanya sedikit yang radikal yang berani terjun ke terorisme. Karena radikalisme seringkali merupakan pendahulu terorisme, fokus pada radikalisme sama dengan mencegah terorisme pada tahap awal, sebelum terlambat untuk tindakan non-koersif.
Kata Ömer, radikalisme memiliki dimensi sosial, berbeda dengan terorisme. Ada masyarakat yang diradikalisasi di mana aksi terorisme mendapat simpati dan tingkat dukungan. Namun, tidak mungkin membicarakan terorisme sebagai fenomena sosial. Tidak ada masyarakat “teroris”.
Artikel Terkait
TV SEBAGAI DEMAGOG BUDAYA MASSA?
NIZAM AL-MULK Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Batik, Dibabar dan Dititik. Jangan Pernah Menyebut Ecoprint Sebagai Batik
RABU MALAM Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
OMONGAN PAKDHE BENAR Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku