TITIKTEMU.CO
TV SEBAGAI DEMAGOG BUDAYA MASSA?
Oleh: Makroen Sanjaya, Praktisi Media/Dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta
Ramai orang bicara tentang amplifikasi dan glorifikasi kebebasan SJ dari penjara. KPI dan penjaga moral masyarakat sudah mengingatkan, agar SJ tak diberi panggung.
Tapi apa lacur, ada TV yang tetap menampilkan SJ dalam sesi wawancara. Lantas, pesan moral macam apa yg ingin disodorkan TV kepada khalayak masyarakat yang sedang sakit ini, dengan menghadirkan SJ di layar TV, yang frekuensinya milik publik itu?
Baca Juga: Petisi Boikot Saipul Jamil Tembus 400 Ribu Tanda Tangan, Targetnya Setengah Juta
Saya berkarir di TV belum terlalu lama, baru menginjak tahun ke-25 di 2021 ini. Tapi saya terlalu lama mahfum dengan strategi bisnis orang TV.
Selama ini, saya sendiri acap mengalami konflik batin, bahasa anak sekarang, GALAU, manakala menjadi bagian dari industriawan TV yang terlalu menganut paham deterministik ekonomi (eufemis dari praktik kapitalisme media).
Baca Juga: KPI Surati 18 Stasiun TV, Minta Tidak Mengulang-ulang Tayangan Saipul Jamil
Tapi sekurangnya, saya beberapa kali, menggunakan 'kekuasaan' saya yang terbatas untuk mengalienasi para penampil "kebanci-bancian" atau para komprador feminisme radikal dari layar kaca tempat saya bekerja. Kendati untuk itu, saya menghadapi tantangan, bahkan tudingan sebagai pengamal ekstremisme/radikalisme atau paham lain yg bersifat kontra hegemonik.
Baca Juga: KPAI dan Netizen Kecam Saipul Jamil Muncul di TV, KPI: Nggak Masalah!
Sebenarnya, para industriawan TV, di level apapun kecuali tukang parkir, bukannya tak paham rambu yg bernama etika, regulasi, dan sebagainya.
Tapi lebih karena interplay sejumlah faktor berikut, yg mendorong mereka seolah menjadi demagog budaya massa, antara lain:
1).Rating sebagai satu-satunya, indikator ekonomi media,
2).Disrupsi digital yang mendekandensi kepemirsaan TV,
3).Ideologisasi TV oleh kepentingan ekonomi politik rejim penguasa dan pemodal sekaligus,