Batik, Dibabar dan Dititik. Jangan Pernah Menyebut Ecoprint Sebagai Batik

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Minggu, 19 September 2021 | 13:17 WIB
Berbagai macam corak batik (foto: Hida Ngirhanto Singgih)
Berbagai macam corak batik (foto: Hida Ngirhanto Singgih)

Batik, Dibabar dan Dititik. Jangan Pernah Menyebut Ecoprint Sebagai Batik.

Oleh: Hida Ngirhanto Singgih, Penyuka dan Penikmat Batik serta Ecoprint

TITIKTEMU.CO - Sejak pertama tertarik Ecoprint, saya tidak pernah bisa membandingkan dengan batik. Saya juga berusaha mengedukasi pada peminat Ecoprint bahwa Ecoprint bukan batik, dan jangan pernah menyamakan ecoprint dengan batik.

Batik adalah karya seni adiluhung. Yang sudah melewati beratus tahun. Batik terkait dengan tradisi kehidupan. Motif dan warna nya mencerminkan kreativitas dan spiritualitas bangsa Indonesia, sehingga dapat dikatakan batik merupakan identitas bangsa.

Filosofi batik adalah filosofi jati diri kita. Batik, dibabar dan dititik. Prosesnya yang panjang, juga tidak bisa dibandingkan dengan Ecoprint. Meski sama-sama sebuah karya yang bisa dikategorikan slow process but hard effort.

Baca Juga: Pariwisata Maros Sulsel Jadi ‘Alternative Tourism’

Batik diwariskan secara turun temurun, dan tetap menjadi penghubung antara masa lalu dan masa depan. Batik sebagai warisan budaya tak pernah putus pada satu dekade tertentu dalam lembar sejarah. Hal inilah juga yang menjadikan batik menjadi salah satu warisan yang dihargai oleh dunia

Ecoprint lebih pada sebuah karya penghargaan terhadap semesta. Uluk salam pada sesama ciptaanNya. Jadi , proses ecoprint harus memberi kita niatan untuk terus melakukan pengulangan menanam, merawat dan memanfaatkan.

Pada 9 Januari 2009, pengajuan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi UNESCO diterima secara resmi. Batik dikukuhkan pada sidang keempat Komite Antar-Pemerintah tentang Warisan Budaya Nonbendawi yang diselenggarakan UNESCO di Abu Dhabi pada 2 Oktober 2009

Baca Juga: Kemendag Blokir Ratusan Situs Perdagangan Berjangka, Ada Yang Tawarkan Robot Forex

Hari itu, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO memberikan pengakuan internasional: batik Indonesia sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non-bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Kain yang memiliki ragam hias atau corak yang dibuat dengan canting dan cap ini diakui UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia, karena batik Indonesia memiliki motif yang beragam dan memiliki makna filosofi yang mendalam.

UNESCO mengakui batik sebagai warisan dunia karena memenuhi kriteria,. Adapun, motif batik yang ada saat itu bukanlah motif yang dikenal seperti saat ini, melainkan pola ragam hias sederhana

Baca Juga: Diponegoro, Pangeran yang  Membuat Belanda Bangkrut

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X