Republik ini didirikan oleh mereka yang menjiwai sepenuhnya arti penting persatuan untuk membentuk Indonesia yang majemuk. ”Kita mencintai bangsa kita dan dengan ajaran agama kita (Islam),” ujar Hadji Oemar Said Tjokroaminoto dalam Kongres Sarekat Islam di Bandung pada tahun 1916. ”Kita berusaha sepenuhnya mempersatukan seluruh atau sebagian besar bangsa kita,” ujarnya.
Baca Juga: Adu Gaya Anies Baswedan dan Ridwan Kamil di ‘Catwalk’ Dukuh Atas Jakarta
Islam yang diajarkan oleh Tjokro kepada para pendiri bangsa ini, antara lain Soekarno, bercorak nasionalistis karena Islam diyakini sebagai kekuatan pemersatu bangsa yang majemuk.
Dengan meneladani Tjokro sebagai ”pujaan dan cermin hidupnya”, tulis Cindy Adams dalam menceritakan Sukarno: An Autobiography as told to Cindy Adams (1965), Soekarno pun mengikuti Islam yang diajarkan gurunya dengan penegasan bahwa ”I am convinced that it is only this unity which will bring us to the realization of our dreams: A free Indonesia” (Sukarno, Nationalism, Islam and Marxism, 1969:36).
***
Saya tangkap dalam obrolan lewat telepon, Sukidi sangat prihatin dengan kondisi sekarang. Kata Sukidi, keutuhan Indonesia sedang dipertaruhkan. Masyarakat semakin terbelah. Prasangka, kebencian, bahkan permusuhan mewarnai karakter baru masyarakat yang terbelah. Agama yang seharusnya menjadi sumber compassion, belas kasih justru menjadi sebaliknya.
Dan, dikhawatirkan nanti mendekati Pemilu 2024 akan semakin menjadi-jadi. Karena, berdasarkan pengalaman, politik identitas seperti yang sudah-sudah dimanfaatkan para pelaku politik (atau sengaja ndompleng para pemburu kekuasaan) untuk meraih, merebut kekekuasaan, memenangkan konstestasi politik.
Baca Juga: Polda Metro Jaya Tidak Akan Batasi Ruang Ekspresi Citayam Fashion Week. Ini Imbauan Kabid Humas PMJ
Kata Sukidi, bangsa ini kehilangan figur pemimpin yang tampil menjadi pemersatu rakyat. Terakhir kita kehilangan Buya Syafii Maarif, yang selama ini selalu menyuarakan suara kenabian. Jauh hari sebelumnya kita kehilangan antara lain Gus Dur, Cak Nur, Romo Mangun, dan Ibu Gedong Bagus Oka. Mereka itu adalah tokoh-tokoh anti-kekerasan, pendukung persatuan dan kesatuan bangsa, kebhinnekaan, dan juga moderasi agama.
Sekarang ini, alih-alih mempersatukan rakyatnya yang terbelah, tak sedikit pemimpin malah memanfaatkan keterbelahan itu, mempertontonkan nafsu kekuasaan, tanpa peduli atas pembelahan sosial yang semakin memprihatinkan. Padahal, persatuan menjadi warisan dan kesepakatan luhur pendiri bangsa.
Bukankah Republik ini meraih kemerdekaan dan mampu berdiri tegak di atas pilar kebinekaan berkat persatuan. Persatuan menjadi spirit perjuangan kolektif para pendiri bangsa, bukan sekadar untuk melawan kolonialisme yang brutal, melainkan juga untuk membentuk negara Indonesia.
Baca Juga: Roy Suryo Akhirnya Jadi Tersangka Kasus Unggahan Meme Stupa Candi Borobudur
Maka benar yang dikatakan Bung Karno, beberapa puluh tahun silam, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.”
***