Maka, bukan hanya terkadang tetapi kerap terjadi lawan juga bisa menjadi kawan ketika ternyata terjadi kecocokan kepentingan atau sebaliknya kawan menjadi lawan, karena beda kepentingan. Praktik semacam itu terjadi nyata di panggung politik di mana saja, juga di negeri ini. Apakah kita pernah membayangkan bahwa yang bertarung sengit pada Pilpres 2019, kemudian bersatu?
Kepentingan. Itu kata kuncinya. Itulah yang abadi. Kepentingan adalah sesuatu yang sangat melekat pada kawan dan lawan.
Dengan kata lain, kepentingan tidak mengenal yang namanya kawan atau lawan karena kepentingan selalu ada dimanapun berada dan di waktu kapanpun.
Baca Juga: Prof Ova Emilia Terpilih sebagai Rektor UGM. Ini Profil Rektor Wanita Guru Besar FK KMK UGM itu
Maka, benar yang dikatakan Romo Sindhu bahwa persahabatan–apalagi sekarang ini–harus dirayakan. Karena persahabatan adalah sesuatu yang langka. Terutama persahabatan sejati yang tidak didasarkan pada kepentingan diri sesaat.
Sebab, persahabatan bukan sekadar mengenal seseorang, di atas segalanya. Tetapi, persahabatan adalah persatuan kehendak; kehendak untuk tujuan baik.
Persahabatan sejati tidak didasarkan pada syarat- syarat yang berubah-ubah; seperti persahabatan politik, yang bersyarat-syarat, yang berdasarkan kepentingan (entah itu kepentingan golongan, kepentingan kelompok, kepentingan suku, agama, maupun etnis, kepentingan identitas, dan sebagainya).
Baca Juga: Oemarsono, Mantan Bupati Wonogiri dan Gubernur Lampung Tutup Usia. Dimakamkan di Tanah Kelahirannya
Maka, kita sekarang hanya bisa mengenang sekaligus cemburu pada persahabatan sejati para Bapak Bangsa yang mendirikan republik ini.
Kata Buya Ahmad Syafii Maarif (2009), “Betapa seorang Natsir atau Prawoto Mangkusasmito begitu dekat dengan Ignatius Joseph Kasimo, Herman Johannes, Albert Mangaratus Tambunan, atau Johannes Leimena, baik pada masa revolusi kemerdekaan maupun sesudahnya. Atau antara Burhanuddin Harahap dengan Ida Anak Agung Gde Agung yang Hindu. Kasimo bahkan bersama tokoh Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI) mencoba melawan sistem politik otoritarian Soekarno pada era demokrasi terpimpin (1959-1966).”
Baik Natsir, Kasimo, Leimena adalah tokoh-tokoh penting dari kelompok agamanya masing-masing. Mohammad Natsir yang berasal dari Minangkabau di tahun 1950-an adalah petinggi Masyumi atau Majelis Syuro Muslimin Indonesia. Masyumi adalah partai Islam terbesar di zaman Soekarno
Baca Juga: Resmi! Sembilan Anggota Dewan Pers Menerima SK Pengukuhan dari Presiden
Semua itu adalah sejarah. Semestinya historia magistra vitae, sejarah adalah guru kehidupan. Tetapi, pernahkan kita, bangsa ini berguru pada sejarah atau malahan menganggap sejarah hanyalah kisah masa lalu yang harus dilupakan?
Di Omah Petroek, persahabatan seperti yang dulu dihidup-hidupi para Bapak Bangsa, seperti hadir kembali, ketika semua yang hadir tanpa kecuali, siapa pun mereka, apa pun latar belakangnya, warna apa pun identitasnya bergembira bersama.
Di Omah Petroek ketika Bulan bulat menjelang Waisak membiarkan sinarnya menyelimuti Desa Wonorejo, persahabatan itu dirayakan. Semua ikut merayakan persahabatan, tidak ada pembedaan warna “baju” yang mereka kenakan.