Pegunungan Menoreh dulu menjadi basis pertahanan Pangeran Diponegoro pada saat pecah Perang Jawa (1825-1830).
II
Hamparan sawah menghijau, yang tengah berbunga, mengingatkan obrolan saya dengan Sukardi Rinakit yang akrab saya panggil Cak Kardi, beberapa waktu lalu. Cak Kardi, pernah cerita soal sawah; bukan sawah di kampung halamannya.
Baca Juga: Pemberangkatan Jemaah Umrah Dihentikan, Begini Penjelasan Kemenag
Sawah menjadi saksi bagaimana petani bekerja dengan keras untuk hasil yang luar biasa. Sawah merupakan sumber daya utama bagi pemantapan ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Tetapi, sekarang ini sudah demikian banyak lahan sawah yang diubah menjadi kompleks perumahan atau bangunan lainnya.
Cak Kardi mengibaratkan rumah-rumah kebangsaan yang menjadi tempat persemaian para kader bangsa, sebagai sawah.
Baca Juga: Masih Pandemi ASN Dilarang Plesir ke Luar Negeri, Jika Nekat akan Dipecat!
Di sawah itulah benih-benih kader bangsa disemai. Ada tiga sawah tempat kader-kader bangsa disemai, yakni partai politik, masyarakat sipil, dan kelompok-kelompok agama.
Kata Cak Kardi (2013) persemaian para pemimpin di sawah atau rumah politik ini sangat lambat.
Itu terjadi karena kerasnya praktik paternalistik dan oligarki partai. Selain itu juga karena semakin menguatnya kapitalisme demokrasi yang membuat proses dan kontestasi politik menjadi mahal.
Baca Juga: Desa Wisata Kembang Arum Sleman, Lokasi Ideal Buat Outbond
Politik uang yang antara lain menjadi penyebab bahwa demokrasi di negeri ini berbiaya tinggi.
Suburnya politik uang itu juga tidak lepas dari cara pandang masyarakat pemilih yang permisif terhadap politik uang.
Pada proses demokrasi di Indonesia, termasuk demokrasi di level akar rumput (pilkades) praktik money politics tumbuh subur, karena dianggap suatu kewajaran, masyarakat tidak peka terhadap bahayanya.