Begitulah yang terjadi. Apalagi kalau sawah tak dirawat, dicukupi kebutuhan airnya, tidak dibajak, tidak dipupuk.
Karena itu, siapapun pemimpin rakyat yang lahir pada zaman sekarang ini—bukan dari sawah-sawah itu—tetapi lahir dari kehalusan akal budi, kerendahan dan ketulusan hati, serta keteguhan hati yang bersangkutan.
Baca Juga: Kasus Dugaan Kekerasan Seksual di Unesa Belum Tuntas, @dear_unesacatcallers Ungkapkan Pesimisme.
Pemimpin rakyat seperti itulah yang berani mengambil keputusan berat dan tidak populer secara mandiri. Dan, berani mempertanggung-jawabkan semua keputusan yang tidak populer itu kepada rakyatnya, sekalipun dibombardir berbagai fitnah dan ujaran kebencian. Karena ia tidak dibelenggu kepentingan-kepentingan lain.
Dan, ketika sekali lagi kupandangi hamparan tanaman padi yang hijau di lembah Pegunungan Menoreh, tak kutemukan kegersangan. Sebab, tujuan akhir dari bertani bukanlah menumbuhkan tanaman, tetapi menjaga kehidupan.
Itu jelas tidak seperti sawah-sawah kebangsaan yang kini ditumbuhi ilalang dan semak berduri, yang hanya memburu kekuasaan. Karena kekuasaan itu memesona.***
Sumber: https://triaskun.id/2022/01/10/di-lembah-bukit-menoreh/
Artikel Terkait
ORANG-ORANG KALAH Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
POLITIK WHATSAPP Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan senior, Penulis Buku
SINDROM TIKUS Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
KALA MARICA oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Menkeu Sri Mulyani: Korupsi adalah Penyakit dan Bahayanya Sangat Nyata!
Presiden Joko Widodo: Metode Pemberantasan Korupsi Harus Disempurnakan
Di Kaki Gunung Merapi, oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku