III
Dulu, ketika melihat apa yang terjadi di negaranya—korupsi yang meruyak, demokrasi bablasan, menguatnya politik identitas yakni sentimen dan egoisme etnik yang berujung dengan pecahnya negara itu menjadi Ceko dan Slovakia—Havel mengatakan, politik dan kekuasaan telah kehilangan “sebuah tanggung jawab yang lebih tinggi” dan “sebuah laku untuk melayani.”
Ia mengatakan demikian, karena bagi Havel politik adalah sebuah laku bukan untuk dirinya sendiri, tetapi pergulatan untuk liyan.
Baca Juga: Disebut Lebih Gampang Menular, Ini 7 Fakta Varian Covid-19 Baru Omicron
Kata Havel, politik adalah bidang usaha manusia yang lebih menekankan pada kepekaan moral, pada kemampuan untuk merefleksikan diri sendiri secara kritis, pada tanggung jawab yang tulus, pada selera dan kebijaksanaan, pada kapasitas untuk berempati pada orang lain, pada rasa tidak berlebihan, pada kerendahan hati.
Ini adalah pekerjaan untuk orang-orang sederhana, untuk orang-orang yang tidak bisa ditipu.
Mereka yang menyatakan politik adalah bisnis kotor, itu membohongi kita. Politik adalah jenis pekerjaan yang membutuhkan terutama orang-orang yang tulus, bersih karena sangat mudah untuk menjadi tercemar secara moral.
Baca Juga: Hadapi Varian Omicron Covid-19, Begini Aturan Protokol Kesehatan Baru
Sedemikian mudahnya, sehingga roh yang kurang waspada mungkin tidak menyadarinya sama sekali. Karena itu, politik harus dijalankan oleh orang-orang yang waspada, peka terhadap janji penegasan diri yang ambigu yang menyertainya. Begitu kata Havel.
Indonesia, memang bukan Cekoslovakia. Tetapi melihat apa yang terjadi setelah Reformasi 1998, misalnya, meruyaknya korupsi, demokrasi bablasan, menguatnya politik identitas yakni sentimen dan egoisme etnik, ditambah dengan politisasi agama, rasanya apa yang dikatakan Havel menjadi relevan juga bagi kita. ***
Sumber: https://triaskun.id/2021/11/29/vaclav-havel/