Ada nada kekecewaan dalam diri Havel. Suaranya tak cerah, karena di masa transisi politik—yang mencapai kejenuhannya pada tahun 2004, setelah Republik Ceko menjadi anggota Uni Eropa—sistem lama yang korup tidak hilang.
Masih tetap hidup dalam birokrasi, bahkan menjadi-jadi.
Baca Juga: Liga Inggris: Kalahkah Westham United 2-1, Manchester City Memepet Chelsea yang Berada di Puncak
Partai politik yang berkuasa Partai Demokratik Sipil (ODS) dan Partai Demokratik Sosial Ceko (ČSSD), menutup mata terhadap tindak korupsi.
Mereka mengambil sikap yang sama terhadap korupsi seperti yang dilakukan rezim komunis yang mereka gusur.
Tidak ada pihak yang mengakui bahwa korupsi sistemik ada pada saat itu.
Baca Juga: 7 Tempat Ngopi Paling Ngehits di Boyolali. Pilih menu atau view-nya, semuanya ada
Jika kasus korupsi berubah menjadi skandal publik, yang disalahkan adalah kegagalan moral pribadi dari pelaku individu.
Tentu itu, beda dengan prinsip Havel. Baginya kekuasaan dan politik bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk “melayani mereka yang berada di sekitarnya.”
Maka ketika melihat bahwa demokrasi yang ditegakkan lewat Revolusi Beludru ternyata disalahgunakan untuk mencari kepuasan diri lewat korupsi, menjadi medan untuk saling membenci, saling curiga, dan juga memberi tempat bagi merajalelanya rasialisme, bahkan juga fasisme, Havel sangat kecewa.
Baca Juga: Arab Saudi Cabut Larangan Penerbangan Langsung dari Indonesia, Kemenag Bahas Teknis Umrah
Yang lebih mengecewakan Havel adalah pecahnya Cekoslovakia menjadi Republik Ceko dan Republik Slovakia.
Ia menenantang “perceraian” Cekoslovakia. Karena itu, Havel memilih mundur dari jabatannya sebagai presiden pada tahun 1992.
Ia tak ingin “perceraian” Cekoslovakia itu terjadi ketika ia sedang memimpin negaranya. Cekoslovakia resmi pecah pada 1 Januari 1993.
Baca Juga: Ameer Azzikra, Putra Almarhum Ustaz Arifin Ilham Meninggal Dunia
Artikel Terkait
Nama Sri Sultan Hamengku Buwono IX Bisa dan Layak Dijadikan Nama Bandara Internasional Yogyakarta
HUJAN KASIH Oleh: Yudi Latif, Cendekiawan
SINDROM TIKUS Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
KELOR, BUNG NASRIN DAN PARAMAKARYA 2021 oleh : Lalu Gita Ariadi
KALA MARICA oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku