SAHABAT SAYA, PULANG DARI TURKI, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Indria Purnama Hadi, TitikTemu.co
- Sabtu, 13 Agustus 2022 | 18:30 WIB
Penulis di ujung utara Jl Malioboro, Jogjakarta (Istimewa)
Penulis di ujung utara Jl Malioboro, Jogjakarta (Istimewa)

Baca Juga: Komnas HAM: Sambo Akui Rekayasa Informasi dan Konstruksi Tembak Menembak

Sebuah bentuk ekstrim dari sekularisme, laisisme, diadopsi oleh Atatürk, yang melihat bahwa kebangkitan Turki akan tetap tidak lengkap jika Islam dan Ottomanisme tidak dipaksa untuk mundur (tutkainlehti.fi, 25 April 2018).

Atatürk dan lingkaran elitisnya yang dikenal sebagai Kemalis, percaya bahwa agar Turki dapat mengejar ketertinggalan dari negara maju (Barat), negara harus mengontrol ekspresi keagamaan dan mendirikan rezim partai tunggal. Oleh karena itu, Partai Republik Rakyat (CHP) didirikan.

Baca Juga: 30 Twibbon HUT Kemerdekaan ke 77 RI. Siap Ramaikan Agustusan di Medsos. Cek Link dan Cara Pasangnya

***

Di depan lukisan Mustafa Kemal Atarturk
Di depan lukisan Mustafa Kemal Atarturk (Istimewa)

Semua itu adalah masa lalu Turki, negeri yang posisinya unik: terletak di Asia dan Eropa, menjadi jembatan Timur dan Barat. Kebesaran Kekaisaran Romawi Timur, adalah masa lalu. Keagungan Kesultanan Utsmaniyah yang di puncak kekuasaannya di bawah pemerintahan Suleiman Al-Qanuni (1494 – 1566) wilayahnya meliputi sebagian besar Eropa Tenggara, Asia Barat/Kaukasus, Afrika Utara, dan Tanduk Afrika, juga masa lalu.

Bahkan, kedudukan penguasa Utsmaniyah selain sebagai sultan juga sebagai pemimpin dunia Islam secara simbolis, juga masa lalu. Pada tahun 1517, setelah penaklukkan Mesir oleh Utsmaniyah, Khalifah Al-Mutawakkil III menyerahkan kedudukan khalifah kepada Sultan Selim I. Maka penguasa Utsmaniyah sejak itu: sultan sekaligus khalifah.

Baca Juga: LIGA INGGRIS: Link Livestreaming Manchester City Vs Bournemouth, Citizen Berusaha Jaga Rekor Tak Terkalahkan

Semua itu masa lalu Turki. Suatu masa yang tidak bisa diputar ulang. Apalagi, dikembalikan. Meski P Swantoro (2018) berkeyakinan masa lalu selalu aktual; masa kini dan masa lalu selalu bertali-temali. Tetapi, tidak semua masa lalu cocok untuk masa kini.

Maka–bahkan pada tahun 1917 pun–Mustafa Kemal Pasa, 1881-1938, yang kemudian mendapat gelar Atatürk (Bapak Bangsa Turki), sudah melihat bahwa Kesultanan Ottoman (Utsmaniyah) adalah masa lalu, yang tidak cocok terhadap tuntutan bangsa Turki yang tengah menyongsong zaman baru, ketika itu.

Kesultanan Utsmaniyah dianggapnya sudah tak mampu lagi menghadapi tantangan zaman setelah kekalahannya pada PD I. Maka kesultanan dan kekhilafahan, dihapus.

Baca Juga: LIGA INGGRIS: Link Livestreaming Brenford Vs Manchester United, Apakah Cristiano Ronaldo Jadi Starter?

Tidak ada lagi sultan di Turki. Yang ada, presiden. Tidak ada lagi kesultanan. Yang ada negara republik. Tidak ada lagi Kekhalifahan Utsmaniyah. Yang ada Republik Turki. Tidak ada lagi khalifah di Turki. Yang ada, presiden.

Republik Turki modern dideklarasikan pada 29 Oktober 1923. Lahirnya Republik Turki, secara permanen mengakhiri Kesultanan Ottoman. Atatürk membuka lembaran sejarah baru bangsanya dengan menutup lembaran lama.

Atatürk pula yang menyatukan impian tentang kebangsaan Turki yang baru. Atatürk-lah yang mengokohkan banyak ide dan isu yang akan mendefinisikan Turki modern. Dia-lah yang memrakarsai gerakan sekularisasi yang luas (pemisahan agama dan politik).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: triaskredensialnews.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X