SAHABAT SAYA, PULANG DARI TURKI, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Indria Purnama Hadi, TitikTemu.co
- Sabtu, 13 Agustus 2022 | 18:30 WIB
Penulis di ujung utara Jl Malioboro, Jogjakarta (Istimewa)
Penulis di ujung utara Jl Malioboro, Jogjakarta (Istimewa)

SAHABAT SAYA, PULANG DARI TURKI

Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Sambil makan goreng pisang dan menyeruput hot amiracano di Loko Coffe, di ujung utara Jalan Malioboro, tadi pagi, Sabtu, saya baca WA dari sahabat saya, Ibnu Burdah.

Ibnu Burdah selalu saya sapa Prof. Karena memang Guru Besar Kajian Dunia Arab di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia mengabarkan baru pulang dari Turki, tidak sekadar plesiran. Tetapi, mendampingi mahasiswanya mengikuti lomba debat dalam bahasa Arab antar-universitas dari lima benua.

Saya mengenal putra Karangan, Trenggalek, Jawa Timur (1976) ini beberapa tahun lalu, ketika diundang untuk bicara tentang Timur Tengah pasca Arab Spring Revolution, Revolusi Musim Semi Arab, di UIN Sunan Kalijaga. Sejak itu, kami saling berkomunikasi, berkabar-kabaran; dan bersahabat.

Baca Juga: 30 Kandidat Peraih Ballon d'Or 2022, Karim Benzema Calon Favorit, Lionel Messi Tidak Masuk Daftar

***

Di depan Masjid Biru, Istanbul, Turki (2016)
Di depan Masjid Biru, Istanbul, Turki (2016) (Istimewa)

Turki selalu mengingatkan cerita-cerita besar di masa lalu. Istanbul yang didirikan di Tanjung Sarayburnu sekitar 660 SM sebagai Byzantium, misalnya, pernah menjadi pusat empat kerajaan besar: Kekaisaran Romawi (330-395), Kekaisaran Bizantium (395-1204 dan 1261-1453), Kekaisaran Latin (1204-1261) dan Kekaisaran Ottoman atau Utsmaniyah (1453-1922).

Letak kota Istanbul, memang unik. Istanbul adalah kota lintas benua, melintasi Bosphorus—salah satu jalur air tersibuk di dunia—antara Laut Marmara dan Laut Hitam.

Pusat bisnis dan sejarahnya terletak di Eropa, sementara sepertiga penduduknya tinggal di Asia. Hingga kini, Istanbul, kota terbesar di Turki dengan penduduk 13,9 juta jiwa, tetap merupakan jantung sejarah, kultural, dan ekonomi Turki. Meskipun ibu kota Turki di Ankara.

Baca Juga: Gibran Dikritik Soal Lepas Masker Oknum Paspampres. Ini Jawabannya yang Menohok

Pada tahun 330 M, Konstantin Agung, Kaisar Romawi membangun kota ini dan menjadikanya sebagai ibukota Kekaisaran Romawi Timur. Lalu, nama Byzantium pun diganti menjadi Konstantinopel, Roma Baru.

Istanbul berperan penting dalam kemajuan agama Kristen selama zaman Romawi dan Bizantium, sebelum Ottoman menaklukkan kota pada tahun 1453 dan mengubahnya menjadi benteng Islam dan kursi kekhalifahan terakhir, sebelum “dimatikan” oleh Mustafa Kemal Atatürk.

Kekhilafahan dihapus. Khalifah terakhir Sultan Abdülmecid diturunkan dan diasingkan, 3 Maret 1924. Ia lalu hidup 20 tahun di Perancis. Alfabet dan angka Arab dibuang demi alfabet Latin dan sekolah-sekolah agama ditutup, sementara wanita dilarang mengenakan kerudung di departemen resmi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: triaskredensialnews.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X