SPARTACUS CAPUA Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku dan Duta Besar RI untuk Vatikan
Capua. Inilah kota pertama yang saya kunjungi sejak memulai bertugas di Vatikan. Kota kecil seluas 48,63 km2 dan berpenduduk sekitar 18,5 ribu jiwa terletak 189,6 km selatan Roma dan 25 km utara Napoli.
Capua adalah kota kuno. Kota yang sekarang bernama Santa Maria Capua Vetere ini didirikan sekitar tahun 660 SM. Tetapi, orang tetap menyebutnya Capua saja. Ringkas.
Baca Juga: Arsenal menang melalui gol tunggal Leandro Trossard, The Gunners tetap belum terkalahkan!
Begitu mendengar kata Capua, ingatan saya langsung ke cerita lama tentang seorang gladiator kondang: Spartacus. Dia juga dikenal dengan nama Spartacus Capua, karena dari Capua. Kisah gladiator ini pernah difilmkan (1960) dengan pemeran utama Kirk Douglas.
Spartacus adalah seorang budak yang memimpin pemberontakan para budak melawan penguasa Romawi. Kata legenda, ketika tentara Romawi berhasil menumpas pemberontakan itu (71 SM), mereka sia-sia mencari Spartacus yang asli. Setiap tawanan menyatakan "Saya Spartacus", sebagai tanda solidaritas yang agung.
Baca Juga: Jokowi Sebut Nama Erick Thohir, Saat Mempersilahkan Relawan Panaskan Mesin Politik
Solidaritas kaum tertindas. Solidaritas para budak yang diperlakukan secara tidak manusiawi. Begitu kira-kira.
Solidaritas pada yang tertindas, yang papa miskin, yang tersingkirkan, yang tidak punya suara dan tidak dapat bersuara, yang lemah dan sebagainya adalah ungkapan nyata bagi setiap orang beragama.
Baca Juga: Mencicipi Wedang Tahu Semarang Yang Mulai Langka
Iman bukanlah hal yang semata-mata abstrak dan mengawang-awang. Namun, harus diwujudnyatakan; direalisasikan dalam setiap peristiwa hidup manusia di tengah masyarakat. Beriman harus peduli dan berbagi kepada mereka yang mengalami kekerasan, kepedulian, ketidakadilan, dan tindakan-tindakan lain yang tidak menghormati martabat manusia.
Ada lagi solidaritas umat beriman. Dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat Indonesia yang beragam dalam banyak hal, termasuk dalam hal agama dan kepercayaan, solidaritas umat beriman adalah sangat penting. Bersama-sama membangun kerukunan, saling percaya, saling hormat-menghormati, saling harga-menghargai, dan membangun persaudaraan sejati.
Baca Juga: Harapan Baru Untuk Mahasiswi UGM Yubita Dengan Kaki Palsu Barunya
***
Artikel Terkait
'Visi-Aktualisasi Pancasila' Oleh: Yudi Latif, Pengurus Aliansi Kebangsaan
'PERAIRAN INDONESIA DARURAT SAMPAH' Oleh: Ramadhan Wibisono (News Producer INDOSIAR SCTV)
Rancangan Perpres Soal Publisher Rights, Langkah Anti Demokrasi
Internasional AirPorts: Antara Madu atau Racun?
'BRUTUS DAN YUDAS' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku, Duta Besar RI untuk Vatikan
'BUNG KARNO DI OMAH PETROEK' Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku, Duta Besar RI di Vatikan
'PRESIDEN BUKAN PETUGAS PARTAI' Oleh: Denny JA