'SPARTACUS CAPUA' Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku dan Duta Besar RI untuk Vatikan

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Senin, 18 September 2023 | 07:34 WIB
Gladiator (ilustrasi) (flickr.com)
Gladiator (ilustrasi) (flickr.com)

SPARTACUS CAPUA                                                                                                Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku dan Duta Besar RI untuk Vatikan

Capua. Inilah kota pertama yang saya kunjungi sejak memulai bertugas di Vatikan. Kota kecil seluas 48,63 km2 dan berpenduduk sekitar 18,5 ribu jiwa terletak 189,6 km selatan Roma dan 25 km utara Napoli.

Capua adalah kota kuno. Kota yang sekarang bernama Santa Maria Capua Vetere ini didirikan sekitar tahun 660 SM. Tetapi, orang tetap menyebutnya Capua saja. Ringkas.

Baca Juga: Arsenal menang melalui gol tunggal Leandro Trossard, The Gunners tetap belum terkalahkan!

Begitu mendengar kata Capua, ingatan saya langsung ke cerita lama tentang seorang gladiator kondang: Spartacus. Dia juga dikenal dengan nama Spartacus Capua, karena dari Capua. Kisah gladiator ini pernah difilmkan (1960) dengan pemeran utama Kirk Douglas.

Spartacus adalah seorang budak yang memimpin pemberontakan para budak melawan penguasa Romawi. Kata legenda, ketika tentara Romawi berhasil menumpas pemberontakan itu (71 SM), mereka sia-sia mencari Spartacus yang asli. Setiap tawanan menyatakan "Saya Spartacus", sebagai tanda solidaritas yang agung.

Baca Juga: Jokowi Sebut Nama Erick Thohir, Saat Mempersilahkan Relawan Panaskan Mesin Politik

Solidaritas kaum tertindas. Solidaritas para budak yang diperlakukan secara tidak manusiawi. Begitu kira-kira.

Solidaritas pada yang tertindas, yang papa miskin, yang tersingkirkan, yang tidak punya suara dan tidak dapat bersuara, yang lemah dan sebagainya adalah ungkapan nyata bagi setiap orang beragama.

Baca Juga: Mencicipi Wedang Tahu Semarang Yang Mulai Langka

Iman bukanlah hal yang semata-mata abstrak dan mengawang-awang. Namun, harus diwujudnyatakan; direalisasikan dalam setiap peristiwa hidup manusia di tengah masyarakat. Beriman harus peduli dan berbagi kepada mereka yang mengalami kekerasan, kepedulian, ketidakadilan, dan tindakan-tindakan lain yang tidak menghormati martabat manusia.

Ada lagi solidaritas umat beriman. Dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat Indonesia yang beragam dalam banyak hal, termasuk dalam hal agama dan kepercayaan, solidaritas umat beriman adalah sangat penting. Bersama-sama membangun kerukunan, saling percaya, saling hormat-menghormati, saling harga-menghargai, dan membangun persaudaraan sejati.

Baca Juga: Harapan Baru Untuk Mahasiswi UGM Yubita Dengan Kaki Palsu Barunya

***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: triaskredensialnews.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X