'SPARTACUS CAPUA' Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku dan Duta Besar RI untuk Vatikan

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Senin, 18 September 2023 | 07:34 WIB
Gladiator (ilustrasi) (flickr.com)
Gladiator (ilustrasi) (flickr.com)

Capua Amphitheatre, tempat pertarungan gladiator jaman dulu
Capua Amphitheatre, tempat pertarungan gladiator jaman dulu (wikivisually.com)
 

Dahulu, Capua adalah salah satu tempat terkenal penggemblengan untuk menjadi gladiator yang terkenal. Kata gladiator diambil dari bahasa Latin yakni "gladiatores" yang berarti petarung profesional dan amatir di Roma Kuno yang bertarung untuk menghibur para penonton yang "beradab".

Para gladiator biasanya direkrut dari kalangan para penjahat, budak, dan tawanan perang. Mereka dijadikan gladiator karena menurut hukum Romawi, mereka telah kehilangan hak sebagai warga negara atau tidak pernah memiliki hak-hak warga negara.

Baca Juga: Saparan Dengan Menyebar 30.000 Apem Kukus Di Kawasan Wisata Pengging,

Bagi mereka tidak ada pilihan selain harus mematuhi untuk dijadikan gladiator. Mereka inilah yang diadu dengan binatang atau dengan manusia; mereka dijadikan penghibur.

Karena berasal dari latar belakang yang sama, kelas sosial yang sama, sama-sama tertindas; maka terbangunlah solidaritas yang kuat: solidaritas kaum tertindas, kaum terbelenggu, kaum terampas hak-hak kemanusiaannya.

Baca Juga: Babak Penyisihan Grup Liga Champions Dimulai 19 September. Ini Catatan Pencetak Gol Paling Gacor

Itulah yang dahulu mempersatukan para budak di bawah kepemimpinan Spartacus, memberontak melawan Roma.

Dalam perjalanan waktu, para gladiator pun lalu dijadikan tidak hanya sekadar "hiburan" tapi untuk membawa misi. Mulai abad pertama partarungan gladiator oleh para politisi dijadikan sebagai alat untuk mencari dukungan, meningkatkan popularitas.

***

 Baca Juga: Opening Ceremony FIFA U17 2023 di GBT, Bakal Seru

Tapi kemarin, kami ke Capua tidak untuk nonton gladiator, karena memang sudah tidak ada. Kami menghadiri kaul kekal empat biarawati dari Kongregasi Fransiskan dari Hati Kudus Yesus dan Maria.

Mereka—dua dari Indonesia dan dua asal Timor Leste—di Gereja Santissima Annunziata atau biasa biasa disebut Gereja St Maria Menerima Kabar Baik yang dibangun abad ke-16. Mereka adalah Suster Laurensia Uko Sogen dan Suster Sabina Sarce Dhoro dari Flores, Indonesia dan dua lainnya dari Timur Leste, yakni Suster Maria Amelia De Jesus Correia dan Suster Natalia Maria Da Costa Oliviera.

Kaul adalah janji yang diucapkan oleh seorang anggota religius (Suster, Frater, Bruder, Imam, dan semua pelayan Gereja Katolik yang terlibat dalam hidup membiara) di hadapan Allah. Kaul yang mengikat secara kekal dalam waktu yang lama bahkan bisa seumur hidup. Berarti menyatakan hidup seutuhnya bersama Yesus.

Janji itu sudah dipertimbangkan secara bebas oleh pribadi untuk diucapkan seseorang kepada Allah dan dengan sepenuh hati ingin memenuhi janji itu dengan keutamaan yang ada dalam dirinya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: triaskredensialnews.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X