'BRUTUS DAN YUDAS'
Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku, Duta Besar RI untuk Vatikan
Cerita Marcus Yulius Brutus adalah cerita pengkhianatan klasik. Demikian juga cerita Yudas Iskariot adalah kisah pengkhianatan.
Bersama saudara iparnya, Gaius Cassius Longinus, Brutus membunuh Yulius Caesar.
Maka mereka dalam catatan sejarah disebut sebagai pengkhianat.
Dante Alighieri dalam Inferno salah satu dari tiga bagian–dua lainnya adalah Purgatorio dan Paradiso-The Divine Comedy (La Divina Commedia atau La Commedia) bahkan menyebut mereka sebagai pengkhianat terbesar dalam sejarah manusia.
Baca Juga: Mulai 1 Januari 2024 Beli Elpiji 3 Kg Wajib Pakai KTP, Segera Daftar !
Meskipun dalam perjalanan sejarah umat manusia selalu muncul pengkhianat-pengkhianat baru. Sepertinya, setiap zaman melahirkan pengkhianat baru. Dan pengertiannya pun berkembang.
Misalnya, kini ada yang mengartikan pengkhianat itu sebagai orang yang berperilaku cerdas tapi licik; perilaku tak pandai berterima kasih; haus akan kekuasaan; penusuk kawan seiring; menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan; mengutamakan kepentingan diri dan sebagainya.
Baca Juga: Sinopsis Film Gone Girl, Istri Yang Hilang Otomatis Suami Sebagai Pembunuh ?
Dalam kisah pewayangan sosok seperti itu sering dikaitkan dengan Sengkuni, patih Kerajaan Astinapura dalam epos Mahabarata. Dialah provokator kelas wahid yang mengkhianati nilai-nilai kejujuran, yang menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan.
Kisah Marcus Yulius Brutus pun tak jauh berbeda. Brutus (85 – 42 SM) politisi dan orator; Gaius Cassius Longinus (86 – 42 SM), seorang senator dan jenderal, demikian kisahnya.
Baca Juga: Sate Srepeh Khas Rembang , Menikmati Nasi Lodeh Pedas Dengan Sate
Keduanya bersama-sama berpihak pada Pompey melawan Caesar dalam perang saudara tahun 50 SM. Caesar dapat mengalahkan mereka. Dan mengampuninya. Bahkan, keduanya dijadikan sekutunya.
Tapi, suatu ketika Brutus memimpin konspirasi untuk membunuh Caesar, pada tahun 44 SM. Kata Brutus, Caesar harus disingkirkan demi keselamatan negara.
Sebuah alasan klasik: "atas nama negara" atau "atas nama rakyat". Seakan dengan "mengatas-namakan negara" atau "mengatas-namakan rakyat", lantas bisa berbuat apa saja tak peduli aturan, paugeran.
Baca Juga: Malioboro Run, Sambil Berlari Menikmati Budaya Yogyakarta. Catat Waktunya
Artikel Terkait
'TONGSENG SULTAN' Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
'Visi-Aktualisasi Pancasila' Oleh: Yudi Latif, Pengurus Aliansi Kebangsaan
'PERAIRAN INDONESIA DARURAT SAMPAH' Oleh: Ramadhan Wibisono (News Producer INDOSIAR SCTV)
"MENANTI TERANG BULAN' Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Rancangan Perpres Soal Publisher Rights, Langkah Anti Demokrasi
Internasional AirPorts: Antara Madu atau Racun?
'BERKIBARLAH BENDERAKU' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku, Dubes RI di Vatikan