'NGOBROL DI MEJA MAKAN' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Jumat, 8 Juli 2022 | 19:37 WIB
Penulis ngobrol bersama Dubes Indonesia untuk Singapura Tommy Suryopratomo (Istimewa)
Penulis ngobrol bersama Dubes Indonesia untuk Singapura Tommy Suryopratomo (Istimewa)

"NGOBROL DI MEJA MAKAN"

Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

TITIKKTEMU.CO - Petang itu, kami ngobrol sambil makan. Meski belum malam, kami sebut makan malam. Yah, itu soal sebutan saja. Ada rendang daging sapi. Ada ayam bakar. Ada balado ikan. Ada sup. Enak semuanya. Kami–istri, anak, dan saya–menikmatinya.

“Ayo, makan di rumah saja,” kata Dubes Indonesia untuk Singapura, Suryopratomo di ruang kerjanya suatu petang. Pak Tomi, begitu saya biasa memanggilnya.

Kami pernah bertahun-tahun satu kantor, di Kompas. Maka cerita-cerita dan kisah-kisah lama pun hidup kembali. Kata William Faulkner (1897-1962) peraih Hadiah Nobel Sastra 1949 dari Amerika Serikat, The past is never dead. It’s not even past. Masa lalu tak pernah mati. Bahkan, ini bukanlah akhir.

Baca Juga: 320 Orang Diperiksa, 5 Ditetapkan sebagai Tersangka Penghalangan Penangkapan Tersangka Pencabulan di Ponpes

Dalam rumusan lain, Pak Swantoro, salah satu pimpinan kami dulu di Kompas, mengatakan, masa lalu selalu aktual. Masa Lalu Selalu Aktual, menjadi judul bukunya (2007). Sejarah bertalitemali dengan masa kini dan masa datang. Dalam masa sekarang kita dapatkan masa lalu, dalam masa sekarang kita mendapatkan apa yang akan datang.

Maka, tak jarang ada orang yang merasa hebat, sehebat ketika masih berkuasa. Orang itu lupa bahwa sudah tidak mempunyai kuasa lagi. Mereka yang dulu kelihatan begitu reformis, kini justru ikut-ikutan memburu kekuasaan; setelah kekuasaannya terlepas dari genggaman.

Itu yang disebut post power syndrome atau sindrom pascakekuasaan. Yakni, kondisi kejiwaan ketika seseorang hidup dalam bayang-bayang kekuasaan yang pernah dimilikinya dan belum bisa menerima hilangnya kekuasaan itu. Post power syndrome sering dialami oleh orang yang baru saja memasuki masa pensiun, terlebih lagi yang sebelumnya memiliki kekuasaan. Hilangnya kekuasaan menimbulkan penurunan harga diri (self esteem).

Baca Juga: MENGENANG ERIL (2): Atalia Kebingungan antara Menjaga Zara yang Syok atau Terjun ke Sungai Selamatkan Eril

Orang yang kejangkitan post power syndrome, kerap kali berperilaku aneh-aneh. Apalagi kalau sudah tak lagi berada di lingkaran kekuasaan, karena satu dan lain hal. Misalnya, gemar mengkritik pemerintahan yang kadang malah nampak berlebihan dan sok reformis.

Siapa saja bisa mengalami sindrom ini. Artinya, semua manusia mempunyai kemungkinan untuk terperosok ke dalam jurang itu. Bila hal itu terjadi, seseorang akan sulit untuk berkata jujur dan benar. Sebab dasar perbuatannya adalah subyektifitas semata untuk mencari dan atau memertahankan kekuasaan pribadi.

Baca Juga: Beasiswa LPDP 2022 tahap 2 Sudah Dibuka. Tenggat 5 Agustus 2022. Simak Cara Daftarnya di Sini.

***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: triaskredensialnews.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X