Dalam politik, misalnya, popularitas tidak cukup menjamin seseorang untuk memperoleh suara yang memadai dari konstituen. Benar, bahwa politik adalah art of possibilities (definisi politik menurut Otto von Bismarck, 1815-1898, perdana menteri Prussia dan pendiri serta kanselir pertama Kekaisaran Jerman) tetapi art of possibilities juga membutuhkan strategi, dan strategi itu tidak hanya citra.
Baca Juga: Jadwal Liga Inggris Chelsea 2022-2023: Menunggu Kiprah Mason Mount dkk Bersama Pemilik Baru
Ada lagi yang merasa menjadi polisi kebenaran. Memang, memegang kebenaran merupakan keharusan. Akan tetapi kalau lantas merasa diri paling benar, paling saleh, paling bersih, dan paling suci, itu menjadi persoalan lain.
Sudah merasa paling benar, lantas mengklaim sebagai pemegang kunci surga. Dan, seenaknya saja menentukan siapa yang akan masuk surga dan siapa yang akan dibuang ke neraka jahanam yang disana hanya ada ratap tangis dan geretak gigi. Saat itu, merasa seolah dirinya duduk di atas tahta kebenaran yang paling tinggi.
Padahal kata pepatah, ingat di atas langit ada langit. Nasihat orang-orang tua Jawa Aja dadi uwong sing rumangsa bisa lan rumangsa pinter. Nanging dadiya uwong sing bisa lan pinter rumangsa. Jangan jadi orang yang merasa bisa dan merasa pintar tetapi jadilah orang yang bisa dan pintar merasa.
Baca Juga: Rudi Laporkan Iko Uwais ke Polres Metro Bekasi Kota, Iko Lapor Balik ke Polda Metro Jaya
***
Acap-kali, hati ini bertanya: Mengapa orang-orang yang semestinya memberikan pernyataan adem, menyejukkan, menenteramkan justru melakukan hal sebaliknya. Ibarat kata mereka justru menyiramkan bensin ke api.
Mungkin, lupa posisinya, lupa akan dirinya itu siapa. Maka benarlah bunyi pepatah lama ini, Stultus nil celat; quod habet sub corde revelat. Orang yang bodoh tak menyembunyikan apa pun, ia mengungkapkan semua isi hatinya.
Baca Juga: Ganda Putri Apriyani Rahayu dan Siti Fadia Silva Ramadhanti Gagal ke Semifinal Indonesia Open 2022
Kata Mark Twain (1835-1910) seorang penulis kondang dari Amerika, lebih baik menjaga mulut Anda tetap tertutup dan membiarkan orang lain menganggap Anda bodoh, daripada membuka mulut Anda dan menegaskan semua anggapan mereka.
Akhirnya Bung, maaf saya tidak bisa menjawab pertanyaan situ: Apa yang salah di negeri ini? ***
Artikel Terkait
"PESAN DARI ENDE" Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
"THE GODFATHER" Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Link Cerita Horor Padusan Pituh SimpleMan, Spin-Off Sewu Dino, Janur Ireng dan Ranjat Kembang
OPINI: "TOPENG-TOPENG" Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Cerita Horor SimpleMan Desa Gondo Mayit, Kisah Mistis Pendaki Gunung
"KETIBAN PULUNG" Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
CERBUNG: Inspirasi Melankolis.....! "SEBATAS AURORA" Oleh: Triana Rahayu, Episode : V
RESHUFFLE, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku