"PESAN DARI ENDE" Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Jumat, 3 Juni 2022 | 11:52 WIB
Begawan Abiyasa menguraikan ajaran Hastabrata pada Arjuna (ilustrasi gambar: Istimewa)
Begawan Abiyasa menguraikan ajaran Hastabrata pada Arjuna (ilustrasi gambar: Istimewa)

TITIKTEMU.CO

"PESAN DARI ENDE"

Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Pertama
Enam belas tahun silam sosiolog Ignas Kleden menulis artikel di Kompas (6/6/2006). Ignas antara lain menulis, dewasa ini masih sering terdengar keinginan atau harapan akan adanya pemimpin panutan.

Seseorang dianggap menjadi panutan apabila dia memiliki kebajikan-kebajikan yang patut dicontoh oleh orang lain, yang melihat dalam diri sang panutan suatu model tentang perilaku yang baik dan benar.

Pemimpin seperti itu (panutan, teladan) kata Ignas mengutip istilah antropolog Clifford Geertz, diperlakukan sebagai suatu exemplary center yaitu suatu pusat yang penuh teladan. Mereka yang dianggap pemimpin, juragan atau pembesar menjadi juga model bagi perilaku rakyat biasa, anak buah atau para bawahan. Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI), panutan artinya teladan.

Baca Juga: Cek Detilnya Disini! Jadwal Lengkap Pemberangkatan dan Pemulangan Jamaah Haji Tahun 2022

Dalam rumusan Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara, seorang pemimpin itu harus Ing ngarsa sung Tuladha (pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang – orang yang dipimpinnya).

Lalu, Ing Madya Mangun Karsa (pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang – orang yang dibimbingnya); dan Tut Wuri Handayani (pemimpin harus mampu mendorong orang–orang yang diasuhnya berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab).

Baca Juga: Hati-hati Memilih Hewan Kurban di Tengah Mewabahnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) 


Kedua
Setelah 16 tahun, sudahkah pemimpin panutan itu ditemukan? Pasti tidak mudah menjadi pemimpin panutan, pemimpin teladan.

Dalam masyarakat Jawa, dikenal falsafah kepemimpinan yang menjelaskan salah satu sifat baik dari seorang pemimpin yaitu pandai menempatkan diri.

Falsafah itu berbunyi ajining diri saka pucuke lathi, ajining raga saka busana, harga diri seseorang tergantung dari ucapannya dan kemampuan menempatkan diri sesuai dengan busananya (situasinya).

Baca Juga: Gelang Jemaah Haji Mengandung Data Identitas Diri. Ini Detil Isinya

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: triaskredensialnews.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X