Falsafah tersebut tidak hanya berlaku bagi masyarakat Jawa, tetapi berlalu umum, bahkan universal. Sebab, di mana-mana orang dihargai atau tidak karena ucapannya, karena omongannya, karena lidahnya. Orang akan lebih dihargai oleh masyarakat bila mampu mengendalikan ucapannya, omongannya, pernyataannya dan tindakan, perilakunya.
Dengan kata lain, orang akan dihargai, dihormati dan pantas menjadi pemimpin kalau memiliki integritas, ada kesesuaian antara ucapan dan tindakan. Dalam rumusan lain dapat dikatakan kepemimpinan itu lebih banyak dilatih melalui perilaku dan tindakan, bukan dengan kata-kata.
Saat ini orang lebih suka berbicara (misalnya berbicara soal nilai-nilai Pancasila terlepas melaksanakan dengan penuh penghayatan nilai-nilai itu atau tidak), lebih suka ngomong, ngumbar omongan terlepas omongannya itu berisi atau tidak, bermutu atau tidak, mengandung kebenaran atau tidak. Yang penting, berani ngomong dan keras, serta disebar-luaskan lewat media sosial, dan media lainnya.
Baca Juga: Kemenkes Siapkan Gelang Khusus Bagi Jamaah Haji Berisiko Tinggi. Ini Detail Fungsinya
Ketiga
Kesimpulan sederhananya: tidak mudah untuk menjadi pemimpin itu. Apalagi, pemimpin yang bisa menjadi panutan, teladan seperti yang diharapkan oleh Presiden Jokowi di Ende.
Di Ende, dalam amanatnya saat memperingati Hari Lahir Pancasila di Kabupaten Ende, NTT, Rabu (1/6/2022), Jokowi mengajak seluruh pemimpin bangsa, terutama para pejabat pemerintahan, tokoh agama dan juga masyarakat, para pemimpin partai politik, serta tokoh ormas agar menjadi teladan dan contoh dalam mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila (Kompas, 2/6/2022)
Sekarang ini, banyak orang yang mengaku dirinya pemimpin. Banyak orang yang mengklaim sebagai pemimpin rakyat, tetapi tidak memperjuangkan kepentingan rakyat. Bahkan, tidak memiliki apalagi memraktikkan nilai-nilai perjuangan, seperti yang dulu dimiliki oleh para tokoh seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Mohammad Natsir, dan Haji Agus Salim.
Baca Juga: Atalia: Di Sungai Aare yang Luar Biasa Cantik Ini, Mamah Lepaskan Kamu…
Kata Ignas (2011) nilai-nilai perjuangan itu adalah sikap berkorban, tidak mengutamakan kepentingan sendiri, setia kawan dalam penderitaan, keberanian mengambil risiko, rela menyabung nyawa, sikap tanpa pamrih, tidak mengharapkan pujian atau popularitas (justru sekarang yang dicari tepuk tangan, popularitas), serta cinta Tanah Air dan kemerdekaan.
Itulah yang oleh Robert Liefner Greenleaf (1904-1990) disebut sebagai pemimpin pelayan. Sebab, seorang pemimpin yang baik adalah mengutamakan pelayanan kepada masyarakat. Jadi, seorang pemimpin itu pertama-tama dan utama adalah pelayan bagi orang lain.
Untuk bisa menjadi pelayan bagi orang lain, dibutuhkan sebuah dedikasi. Dedikasi tanpa pamrih. Karena itu, seperti kata Joseph Samuel Nye Jr (2008) seorang ilmuwan politik AS, kepemimpinan lahir dengan banyak cara.
Baca Juga: Atasi Skotlandia, Ukraina ke Final Play-off UEFA Perebutkan Satu Tempat di Piala Dunia Qatar
Kata Nye, orang besar tak harus karena kebesaran individualnya tapi karena ia menyatu dengan masyarakatnya. Yang dibutuhkan hanyalah langkah sederhana dan tepat yang bisa dilakukan siapa saja untuk mendengar, berempati, kesadaran, pengarahan, keefektifan, mengambil risiko, jujur, berjiwa melayani, mengobati/menyembuhkan, berinovasi dan persuasi/bujukan yang meyakinkan.
Nah, pertanyaannya sekarang: Apakah para tokoh yang namanya akhir-akhir ini disebut-sebut akan bertarung pada Pilpres 2024, memiliki kriteria seperti itu untuk nantinya menjadi pemimpin panutan?
Kalau tidak, lupakan saja!***
Artikel Terkait
Jangan Salah, Ini Beda Hari Lahir Pancasila dan Hari Kesaktian Pancasila
Perkuat Kolaborasi Membumikan Pancasila, BPIP Jalin Sinergi dengan Kodam V/Brawijaya
JOGJA…JOGJA…JOGJAKARTA… Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
BAPAK KARDINAL DAN IMAM BESAR Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
NGOBROL CAPRES oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
BUYA Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Dari Ende, Presiden Jokowi Ajak Masyarakat Membumikan Pancasila
NGOBROL DENGAN JENDERAL, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku