KISAH PEMBURU, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Selasa, 31 Mei 2022 | 12:49 WIB
Pemburu. Ilustrasi (Unsplash.com/Maxim Potkin)
Pemburu. Ilustrasi (Unsplash.com/Maxim Potkin)

Pendek kata, semua cara dan jalan dilakukan untuk mendongkrak elektabilitas. Karena itu, mereka berusaha tampil sehebat mungkin, sememesona mungkin, semenarik mungkin, sememikat mungkin agar diyakini sebagai tokoh yang ditunggu-tunggu, seperti “Ratu Adil.”

Baca Juga: Gagal Pimpin DPD Demokrat, 2 Politisi Ini Pindah ke Golkar

Tetapi, kalau kealiman, kesalehan, kerendahan hati, kepedulian, kesantunan, kesopanan, dan sikap belarasa yang kental itu tidak berasal dari hati alias hanya sekadar gincu, maka akan segera pudar. Tidak awet. Apalagi bila “pesta” sudah selesai dan gagal mencapai tujuannya. Karena semuanya hanya lamis, manis di bibir saja. Maka ada peribahasa “lidah tak bertulang.”

Kedua
Itulah politik gincu. Bila politik itu semata-mata hanya diartikan– seperti disampaikan Maurizio Viroli— sebagai “keterampilan meraih serta memertahankan kekuasaan dan keunggulan kekuatan”, akan terjadi politik gincu itu; akan terjadi semacam itu.

Padahal, politik memiliki arti yang luhur, mengemban arti baik yakni perjuangan untuk mewujudkan kesejahteraan bersama, bonum commune. Untuk mewujudkan hal itu kata Nicolai Rubinstein (1911-2002) sejarawan Italia Renaisans kelahiran Jerman, perlu ada regimen politicum, rezim politik, yakni pemerintahan menurut hukum yang dibuat sendiri oleh warga. Ini berarti hukum untuk kepentingan seluruh warga tanpa kecuali, tidak diskriminatif, tidak sektarian, dan menjamin terciptanya kedamaian dan keadilan.

Baca Juga: Karim Benzema Pencetak Gol Terbanyak, Real Madrid Juara Liga Champions 2022

Tetapi, arti yang ini terlupakan atau sengaja dilupakan. Sebab, dengan digenggamnya kekuasaan di tangan, lalu yang diperjuangkan adalah kesejahteraan diri, keluarganya, golongannya, dan juga kelompoknya. Maka, nggak usah heran dan risau kalau politik pun lalu dianggap sebagai kegiatan penuh siasat culas dan kotor untuk meraih kekuasaan dan memertahankan kekuasaan.

Karena yang diperjuangkan adalah meraih dan memertahankan kekuasaan, maka segala daya upaya dan cara dilakukan; termasuk jualan agama, politisasi agama, memainkan politik identitas.

Semua itu dilakukan tak peduli bahwa segala daya, upaya, dan cara itu merusak toleransi sosial, agama, dan budaya; bahkan membahayakan keutuhan bangsa dan negara. Kata Buya Ahmad Syafii Maarif (1996) sebuah bangsa dapat mengalami kehancuran bila toleransi sosial, agama, dan budaya tidak mantap.

Baca Juga: BUYA Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Cara-cara tersebut, menunjuk pada pokok dasar politik yang disampaikan pemikir Perancis Bertrand de Jouvenel. Yakni, politik berupa “upaya sistematik untuk menggerakkan orang-orang dalam rangka mengejar suatu rancangan kondisi yang dikehendaki si penggerak.”

Sekarang ini, menggerakkan orang-orang tertentu atau kelompok tertentu untuk mewujudkan apa yang dikehendaki penggerak, banyak dilakukan. Antara lain misalnya dengan menggunakan agama; menggunakan politik identias yang memecah belah bangsa. Si penggerak melihat peluang itu dan lalu memanfaatkan bahkan mengeksploitasi sekuat tenaga, sebesar-besarnya, semaksimal mungkin tak peduli akibatnya, yang penting tujuannya tercapai.

Baca Juga: Ebes Anto Merasa Terharu dan Bangga, Stadion Jati Diri Dipadati Fans PSIS

Ini sontoloyo!

Tetapi, ya itu tadi, kekuasaan, memang membius sehingga membuat mata hati tertutup oleh tembok besar nafsu keserakahan, syahwat kekuasaan. Tentu itu bagi mereka yang haus, lapar, mabuk kekuasaan dan tidak bisa mengukur diri, merasa diri populer, merasa diri bisa kerja baik untuk negara dan bangsa.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: kredensialnews

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X