TITIKTEMU.CO - Sebutannya saja pemburu, maka kerjanya memburu. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menuliskan, salah satu arti dari kata “memburu” adalah “berusaha keras supaya mendapat (uang, pangkat, kekayaan, kekuasaan, dan sebagainya).
Arti kata “memburu” itu sejalan dengan apa yang dihasrati manusia, yakni kata Herry-Priyono (2022) mengutip filsuf politik Thomas Hobbes (1588-1679) keberhasilan atau felicity.
Yang dimaksud keberhasilan adalah meraih obyek hasrat secara terus menerus. Untuk mencapai itu, manusia butuh sarana yang disebut kekuasaan (power): harta, reputasi, jaringan teman, jaringan pemilik modal, jaringan tokoh termasuk tokoh agama, jaringan ormas, dan sebagainya termasuk jaringan buzzer.
Baca Juga: Jokowi: Pemilu Dilaksanakan 14 Pebruari 2024, Pilkada November 2024, Sudah Jelas Semua!
Kata “pemburu” bila disandingkan dengan kata lain, akan memiliki arti lain. Misalnya, pemburu rente (secara sederhana yang dimaksud pemburu rente adalah pengusaha yang memanfaatkan penguasa untuk mendapat keuntungan lebih dari selisih yang diperoleh antara jumlah yang dibayar dengan kebaikan hati penguasa atau pejabat pemerintah).
Ada lagi pemburu harta karun, pemburu kuntilanak, pemburu preman, pemburu kepala (headhunter), pemburu hadiah, pemburu tepuk tangan, pemburu risiko, pemburu hikmah, pemburu mimpi, pemburu cinta, pemburu kebenaran atau filsuf ( yang diburu adalah kebenaran hakiki tentang seluruh realitas dan setiap hal yang dapat dipersoalkan), dan masih banyak lagi, bisa ditambah sendiri.
Yang belakangan ini populer adalah pemburu kuasa. Bila kembali ke KBBI, “pemburu kuasa” ini dapat diartikan sebagai “pengejar dan pemuja kekuasaan.”
Baca Juga: Ruas Jalan Gebyok-Jimbung Klaten Resmi Diberi Nama Jalan Dr. R. Soeharto
Untuk dapat menangkap yang dikejar itu (kekuasaan) maka segala cara dilakukan: mulai dari yang lembut sampai yang kasar, dari yang intelek hingga yang tampak kurang terpelajar, dari yang santun sampai yang tak tahu malu, dari yang rasional hingga yang irrasional.
Pendek kata, dengan menghalalkan segala cara dan jalan, yang oleh orang-orang pintar disebut Machiavellian.
Maka tidak mengherankan –tetapi, aja kagetan, aja gumunan–kalau para pemburu kekuasaan itu sekarang ini tampak alim, saleh, agamis, santun, sopan, peduli, penuh belarasa, merendah, dan tebar pesona; bahkan menyebut-nyebut dirinya keturunan tokoh besar dan kondang di masa lalu.
Yah, semuanya boleh-boleh saja. Wong namanya usaha. Yang mereka lakukan, tak hanya menebar pesona lewat baliho besar-besar yang dipasang di mana-mana, di berbagai kota, tapi ada juga yang menumpang program pemerintah, misalnya dalam hal penanganan Covid-19 atau program minyak goreng.
Ada pula yang menumpang isu yang tengah menjadi pergunjingan atau tengah menjadi kontroversi di masyarakat atau memberikan komentar sekadar untuk cari simpati dari kelompok sasaran buruannya. Meskipun, komentar tersebut bagi yang waras, yang punya nalar, yang punya hati dirasakan tidak mutu. Ora mutu.
Artikel Terkait
POLITIK WHATSAPP Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan senior, Penulis Buku
POLITIK WADAS OLeh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
POLITIK MINYAK GORENG Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
TERAWAN DAN CUCI OTAK Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
LELAKI TUA DAN SANDAL KARET Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
BAPAK KARDINAL DAN IMAM BESAR Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
NGOBROL CAPRES oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku