Mendengar nama lengkapnya, saya langsung ingat kawan SMA saya dari Magelang entah sekarang di mana yang namanya hampir-hampir mirip: Bedjo Subekti. Kawan itu juga pinter, suka menceritakan banyak hal. Pengetahuannya luas. Bacaannya banyak dalam berbagai bidang, ya budaya, filsafat, humanisme, politik, pendidikan, dan tentu agama yang sekarang ini menjadi komoditas yang sangat popular.
“Jadi, Pak,” kata dokter Bedjo “naiknya asam lambung ke tenggorokan yang biasa disebut GERD atau Gastroesophageal reflux disease–nggak usah diingat-ingat, Pak, sekadar pernah dengar saja dari dokter Bedjo (lalu tertawa)–adalah suatu keadaan ketika cairan di lambung berbalik naik ke kerongkongan. Cairan tersebut dapat memicu peradangan dan mengiritasi lapisan dalam kerongkongan.”
“Lalu gejalanya apa, Dokter?”
“Ya, seperti yang sampeyan katakan dan alami itu. Gejala utamanya adalah nyeri pada ulu hati yang terus-menerus dan naiknya asam lambung ke kerongkongan. Tapi ada pula orang yang mengalami GERD tanpa merasakan nyeri di ulu hati; mereka mungkin merasakan sakit di dada, suara serak di pagi hari, atau kesulitan menelan,” jelas dokter Bedjo sambil berdiri di sisi kanan bed saya.
Baca Juga: Motor Anda Hilang? Cek di Polres Sukoharjo, Jika Cocok Bawa Pulang
“Apa ada gejala lain, Dok?”
“Ada. Misalnya, merasakan urat pada kerongkongan seolah ditarik, mirip saat tersedak makanan. GERD juga dapat menyebabkan batuk kering dan bau napas tak sedap. Hanya dokter yang dapat mendiagnosis GERD. Jika Anda merasakan kondisi seperti ini, segera hubungi dokter. Hahaha…seperti iklan, ya” katanya disusul tawa.
Kulirik jam di dinding sudah menunjukkan pukul 00.35. Oh, sudah lebih setengah jam kami ngobrol soal GERD. Dokter Bedjo begitu semangat menjelaskan. Sambil tetep tiduran saya mendengarkan, nggak ada tindakan medis. Obrolan dengan pasien itu bagian dari tindakan medis, barangkali. Saya senang.
Baca Juga: Manchester City 5-1 Watford: Gabriel Jesus Terlibat dalam Lima Gol Kemenangan Pasukan Pep Guardiola
Kata dokter Bedjo kemudian, “Pak, asam lambung yang berlebihan di kerongkongan bisa menjadi masalah serius. Karena itu, penting bagi sampeyan untuk mengetahui kapan waktu yang tepat mencari obat sakit maag yang lebih manjur.”
Tiga
Kami masih ngobrol panjang soal penyakit dan bagaimana menyikapinya. Lalu, Dokter Bedjo cerita perjalanan karirnya, dari sejak SMA di Yogya, Kolese De Britto lalu Fakultas Kedokteran UGM. Ia cerita permusuhannya dengan ibu kos selama bertahun-tahun.
Sejak SMA, Bedjo indekost di daerah Ngupasan depan kantor polisi. Tapi, nyaris sejak awal ia musuhan dengan ibu kostnya. Bedjo pernah bilang kepada mbok-nya ingin pindah kost, eh dilarang disuruh bertahan hingga lulus SMA.
“Di waktu SMA, oleh guru saya, namanya Pak Mantri….saya diberi nama Purba…Kata dia….” belum selesai omongannya sudah saya sela. “Oh, Pak Mantri bong supit..”
Baca Juga: Bayar Zakat Fitrah Lebih Afdol Uang atau Beras? Begini Kata Ulama
Artikel Terkait
Asam Lambung Naik? Ini Obat Herbal Mujarab dari dr Zaidul Akbar
Tradisi Golok Mentok, Wujud Syukur dan Berbagi Warga Bacin Kudus
Bacaan Doa Akhir dan Awal Tahun Baru 2022, Antara Syukur dan Harapan
Dear Penderita Maag, Hindari 5 Minuman Ini!
POLITIK MINYAK GORENG Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
ANGKRINGAN PAK WONGSO Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
TERAWAN DAN CUCI OTAK Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
JOGJA…JOGJA…JOGJAKARTA… Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku