Kesaksian bukan hanya dari tokoh nasional pun banyak. Tetapi, ada yang mengatakan, dalam dunia medis kesaksian itu tak penting. Tetapi, di lain cerita, sejumlah kolega Terawan menilai metode itu belum terbukti secara klinis.
Ah, tentang hal ini, saya kurang paham. Sahabat saya di Magelang pun, Mas Bejo ketika saya tanya juga mengaku kurang paham, meski dia rajin mengikuti berbagai berita tentang Terawan.
Sahabat saya yang lain dari Madiun, Mbak Yani yang bisa dikatakan tekun menggeluti dunia kesehatan malah mengatakan, “bau politiknya kenceng.” Saya terkaget-kaget mendengar pendapatnya itu. Apalagi, Mbak Yani paling tidak suka politik.
Apa iya “berbau politik?” atau bukan sebaliknya, “politik bau?” Atau mungkin seperti dikhawatirkan mantan Menkes Siti Fadilah Supari, tindakan pemecatan itu ada hubungannya dengan bisnis. Tidak tahulah.
Yah, memang sekarang itu semua selalu “dikaitkan” (sebisa mungkin) dengan politik. Karena, politik yang kata orang itu kotor, sekarang ini tampak “cantik jelita” memesona siapa saja yang memandangnya; memikat dan menarik siapa saja yang punya nafsu bergelut dengan politik.
Baca Juga: Piala Dunia Qatar 2022: Kanada lolos ke FIFA World Cup Qatar setelah Puasa 36 Tahun
II
Terlepas dari soal politik yang “cantik jelita” itu, yang pasti, karena Dokter Terawan, maka istilah brainwashing, cuci otak menjadi viral, jadi bahan pembicaraan menarik, akhir-akhir ini. Tidak hanya kalangan medis atau dokter spesialis saja yang ngomongin soal cuci otak, yang juga berlomba-lomba menjelaskan, membeberkan pandangan mereka di media sosial dengan sangat halus maupun kasar, tapi juga masyarakat umum.
Terjadi adu kepinteran lewat media sosial untuk menjelaskan soal “cuci otak.” Ada yang bisa mendudukkan perkaranya, ada yang justru membuat bingung pembaca, ada yang nulis disertai ketidak-sukaan, ada yang nulis disertai emosi, dan ada yang sekadar ingin numpang populer. Dah, pokoknya macam-macam.
Ini semua gegara Dokter Terawan dipecat IDI, dijatuhi sanksi: diberhentikan sebagai anggota IDI.
Baca Juga: Max Verstappen Cemerlang, di saat Ferarri Finish Dua-Tiga di GP F1 Arab Saudi. Mercedes Melempem
Soal cuci otak, ada berpendapat yang menyatakan dalam bidang medis yang dimaksud brainwashing adalah hampir sama dengan istilah DSA (Digital Substraction Angiography) otak. Jadi penamaan brainwashing sebetulnya kurang begitu tepat untuk istilah kedokteran (Bethsaida).
Kata Handrawan Nadesul, (Kompas, 7 April 2018) mungkin tepat disebut brain flushing atau kuras otak. Ibarat pipa leding berkarat, pembuluh darah perlu digelontor. Jadi semacam pengurasan pembuluh darah otak.
Itu kalau di dunia medis. Istilah brainwashing, kata Edward Hunter (1902-1978), dipungut dari China. Bukan untuk urusan medis, lebih politik-ideologis. Ada sejarah panjang sampai akhirnya cara itu digunakan oleh rezim komunis Beijing, Uni Soviet, dan Korea Utara untuk “mengolah” otak rakyat negeri itu.
Baca Juga: Iga Swiatek Menjadi Orang Kelahiran Polandia Pertama yang Menempati Peringkat Pertama Tenis Dunia
Artikel Terkait
KURANG SAJEN oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
PURI GEDEH, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Mengenang Prof. Yahya Muhaimin: “SAYA INI ORANG DESA." Oleh: Hamid Basyaib
PD III DAN PERIODE III Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
ANGKRINGAN PAK WONGSO Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
RARA MENDUT oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku