Itulah sekarang yang terjadi. Kata Sukidi, suka tak suka harus kita akui bahwa persatuan dan kesatuan bangsa saat ini menghadapi cobaan.
Padahal, kesatuan bangsa Indonesia itu, kata Franz Magnis-Suseno (1992), bukan fakta alamiah –misalnya seperti Korea dan Jerman yang satu etnis, satu bahasa, satu sejarah, dan satu kebudayaan–melainkan satu kesatuan moral. Dalam arti, kesatuan berdasarkan tekad bersama yang tumbuh berdasarkan pengalaman satu sejarah penderitaan.
Baca Juga: Permintaan Maaf Diterima, Tapi Shandy Purnamasari dan Maharani Minta yang Satu Ini ke Septia Siregar
Oleh karena itu, kesatuan tekad tersebut harus terus dihidup-hidupi, dirawat, dipelihara, dan dipupuk, ibarat kata seperti pohon, agar semakin tumbuh subur dan berbuah. Sebab, ada saja usaha-usaha dalam berbagai macam bentuk dan rupa berusaha mencobai persatuan dan kesatuan bangsa dan negara; mengikis sendi-sendi pondasi bangunan republik ini.
Api persatuan dan kesatuan itu harus terus dipelihara agar tidak padam. Banyak pelajaran dan contoh dari negara lain yang hancur berantakan karena padamnya api persatuan dan kesatuan, karena adanya ide-ide atau gagasan-gagasan yang bertentangan dengan landasan dasar yang sudah disepakati sebagai pemersatu.
“Di Indonesia, pemersatu itu Pancasila, tentu saja,” kata Sukidi di ujung obrolan lewat telepon siang itu. Sebelum menutup teleponnya, Sukidi masih mengatakan, “Kita tetap harus ketemuan, Mas.”
“Saya tunggu, waktu luang sampeyan_,” jawab saya….